Apa kabar Pah? hari ini aku memang belum menyapa dan menanyakan kabarmu lewat telepon, tapi dalam setiap do'aku, namamu selalu kusebut di urutan kedua setelah Mamah tentunya, aku selalu berharap Papah baik-baik saja, walau kita lebih sering bejauhan dan beda kota aku tidak pernah terlalu mengkhawatirkanmu, aku sudah menitipkanmu kepada Tuhan dalam setiap do'aku.
Pah, seandainya aku ditanya dan disuruh menyebutkan 3 pria yang paling aku cintai di dunia ini, Papah lah urutan pertamanya, ini sungguh dan aku tidak sedang merayumu untuk kemudian meminta sesuatu, sejak aku kecil aku paling segan meminta sesuatu kepadamu apalagi dalam bentuk materi, jangan tanyakan kenapa, aku sendiri tidak tahu.
Papah yang aku cintai,
Ini surat cintaku yang entah keberapa untukmu, aku mau berterima kasih. Iya, aku tahu jasamu itu tidak akan pernah bisa aku bayar sampai kapanpun. Tapi paling tidak aku ingin sekali berbakti kepadamu. Seandainya kamu tahu Pah, suratmu masih aku baca berulang-ulang dan tidak jarang air mataku menetes, aku merasakan cinta yang luar biasa dalam setiap kata yang kamu rangkai.
Papah,
Boleh aku tahu, sekarang ini apa yang membuatmu khawatir tentangku? disalah satu suratmu, aku pernah membaca, semakin aku besar semakin besar pula rasa kekhawatiranmu terhadapku. Aku anakmu yang paling pertama tapi paling manja, mungkin karena adik-adikku berjenis kelamin laki-laki sedangkan aku perempuan. Belakangan ini aku sering sekali menyuruhmu mendengarkan tangisanku, katamu "menangis saja selagi ada waktu senggang". Aku selalu berharap bisa mewarisi kesabaran dan ilmu ihklasmu.
Oh iya, selain aku ini adalah anak termanjamu, aku ini anak yang paling cerewet dan terbuka, kan? ingat tidak pembicaraan kita di telepon sekitar dua minggu yang lalu, Pah? aku meminta maaf kepadamu karena aku merasa terlalu banyak bercerita dan minta pendapatmu, tapi katamu justru senang karena mengetahui langsung dari mulutmu dan anehnya kenapa Papah selalu meminta maaf juga kepadaku karena merasa tidak bisa melakukan apa-apa untukku. Itu sama sekali tidak benar, Papah...kamu itu sejenis malaikat tanpa sayap yang selalu menjagaku di dunia ini, iya walau aku tidak pernah tahu malaikat itu berjenis kelamin sepertimu atau tidak. Artikan saja kata "malaikat" yang kusebut tadi sesuka hatimu.
Pah, satu hal yang tidak pernah aku beritahukan, aku selalu berdo'a kepada Tuhan tentang jodoh yang kelak akan Tuhan kasih untukku, aku ingin jodohku itu sepertimu dan aku belum menemukannya. Sabar yah..(padahal aku mungkin yang harusnya bersabar, hehehe).
Papah,
Sebenarnya masih banyak yang mau aku tulis, tapi aku tahu matamu pun sudah semakin melemah seinging usiamu, lebih baik kapan-kapan lagi aku lanjutkan.
Papah, ijinkan aku berdo'a kepada Tuhan yah...untuk meminta jodoh lagi untukmu, aku yakin Mamah diatas disanapun setuju dengan do'aku ini, adik-adik pun sudah mengiyakan.
Sun jauh dari anakmu.
:*
P.S : Setiap kali kita ketemu, kamu selalu bilang aku semakin cantik, aku memilih untuk percaya saja kata-katamu itu.


No comments:
Post a Comment