Wednesday, March 07, 2012

11 Februari 2012


Aku merasa pertemuan sore ini adalah pertemuan kita terakhir, entah apa yang membuat keyakinan itu menjadi semakin dalam, sejauh ini aku masih punya keyakinan yang sama. Kamu tahu, aku ingin keyakinan itu berubah dan aku merasa kamulah yang punya kekuatan untuk meminta hal tersebut kepada Tuhan, bagaimana?

Angin, Senja, gedung-gedung pencakar langit, senyummu bersama deraan sinar matahari berbias orange, itu menjadi serangkaian sesuatu yang aku suka.

Alunan melodi tentang cinta –jatuh- cinta kemudian berselang dengan lagu patah hati, apakah cinta demikian adalanya seperti kita? Aku tenggak lagi minuman yang segaja aku pesan dua gelas. Sayangnya aku hanya bisa mengabadikan potret itu dalam benak saja. Tak apa. Aku menyukainya, (masih) menyukaimu maksudku. Tapi tidak harus aku katakan berulang-ulang lagi kepadamu bukan?

Banyak sekali kalimat tanya menggantung begitu saja bersama harapan yang sudah kita tinggalkan sejak malam itu. Apapun yang keluar dari mulutmu memang seolah bukan jawaban kataku, padahal bukan begitu, aku hanya sedang melawan arusku, pikirku begitulah caraku menguatkanmu dan sekaligus melemahkanku. Melawan semua yang kamu sebut suatu saat akan kumengerti dan sampai sekarang aku belum bisa mengerti. Nampak sekali aku begitu bodoh dengan semua ketulusanku.

Diam-diam aku mencari sepotong cinta di kedua bola matamu yang kamu lindungi lewat lensa bening itu. Masih ada menurutku, tapi melemah.

Ada pembelaan?

Aku tahu, kamu akan tetap diam dan pasrah.

Andai aku bisa menangis lagi di pundak itu. Pundak yang bukan milikku lagi.

Andai aku masih bisa menggenggam tangan itu. Tangan yang bukan milikku lagi.

Aku sudah utuh mengembalikan semua yang dulu milikku, kalau begitu kapan kamu kembalikan separuh hati yang pernah kamu curi? Aku tidak bisa hidup lama jika setiap langkahku harus dengan setengah hati, itu membuat sesak. Kapan? Jangan terlalu lama, waktu tidak sedang bermanja-manja menunggu keragu-raguanmu lagi.

Setiap malam do’aku masih sama, aku tidak ingin membencimu dengan cinta.

 Tuhan, peluk aku! ketika aku menangis sampai menggigil. Karena dia memilih pergi demi sesuatu yang lebih baik dan aku ingin belajar lebih pasrah demi sesuatu yang akan membuat orang yang aku cintai bahagia. Setidaknya sampai saat ini, kata hati seperti itu.


(catatan penutup malam di hari sabtu, 12 Februari 2012)

<....>

Saturday, March 03, 2012

Kepada seseorang yang selalu jauh cinta pada diri sendiri karen kemampuannya bersiasat, sampai kapan akan terus seperti itu? tidak semua masalah, bahkan menurutku tidak akan ada masalah yang akan terselesaikan jika kamu masih selalu mengandalkan kepintaranmu bersiasat.

Sunday, February 05, 2012

(23) 2 kurcaci

Kalian, aku tahu dalam keadaan baik, surat ini aku tulis saat kalian terlelap disampingku, wajah kalian nampak lelah tapi bahagia,aku perhatikan wajah kalian satu persatu. Seharian kalian lebih banyak dengan tertawa seolah tanpa masalah dan beban padahal terkadang kalian menangis jika tetangga kita itu normalnya kabuh, Hahaha..tetangga memang normalnya ngomel-ngomel jadi kalau dia baik, kita sebut tidak normal. Jadi ini yang jahat sebenarnya siapa coba?

Tidak usah bingung kenapa aku menulis surat ini untuk kalian “2kurcaciku” dievent #30harimenulissuratcinta ini, alasannya sederhana karena aku sayang kalian. Kalian menyayangiku juga bukan? Ingat tidak harapan kita, sesuatu saat kelak, mungkin kita akan hidup masing-masing dan kita selalu berharap cerita kita ini akan dikenang suatu saat pas waktunya tiba. Tentu saja ini kenangan yang lucu dan menyenangkan.
Aku sendiri lupa, sejak kapan kalian ngenggapku Ibu disini, kesannya memang terlihat tua sekali aku ini, padahal kita cuma terpaut usia 4-6 tahun bukan? Ketika aku lelah, kalian lah obatnya yang bisa bikin aku tertawa lagi, liat kalian bercanda atau berantem kecil sesaat sebelum tertidur itu moment yang menyenangkan walaupun terkadang tangan kalian mengenai tubuhku (terpukul) karena bercanda berlebihan, tapi tak apa. Itu bukan masalah besar.
Oh iya, Aku justru yang belajar banyak dari kalian, terima kasih yaa. Aku belajar lebih wise. Walaupun belakangan ini aku sering menasehati kalian, tapi itu sebenarnya buat mengingatkanku juga, iya..jaga diri kalian dan aku selalu mengingatkan kalian jangan sampai melukai hati orang yang kalian cintai dan yang mencintai kalian (dalam hal ini pacar kalian misalnya), supaya kalian mengerti betul apa itu menghargai cinta. Jangan berbicara kasar. Hubungan kalian akan terasa lebih nyaman nantinya. Sama halnya ke orang tua kalian yang sebenarnya. Hehehe.
Aku berusaha bijaksana dihadapan kalian supaya kelak aku bisa benar-benar menjadi orang yang bijaksana.
Hei kamu, kaka...yang lagi dilema karena sedang merasa titik jenuh dalam hubungan percintaan, itu hanya ujian dan itu wajar, setiap hubungan pasti akan mengalami itu, berhasil tidaknya melewati ujian itu, tergantung kaliannya. Aku harap apapun yang terjadi itu yang terbaik, coba diingat masa-masa menyenangkan antara kalian, jangan selalu menggagungkan ego, tidak baik. Belajar sedikit demi sedikit yuk..
Terus jangan jadi seorang pendendam yah, Tuhan Maha adil, aku sedih melihtmu sakit sampai masuk UGD kaya tempo lalu itu. Orang yang jahat kepada kita tidak harus dibalas dengan kejahatan. Oke!
Sukses yaah..

Hei kamu, ade...Gadis ceria dan centil..luar biasa sekali, awalnya aku sendiri tidak mengangka kamu itu bisa kuat ngehadapin masalah, aku tahu itu. Awalnya aku fikir kamu hanya gadis manja, tapi ternyata tidak. Pertahankan yah..dan maaf aku selalu mengingatkan mu ketika di luar rumah untuk tidak terlalu centil, hahaha..aku harap kamu tidak tersingung, tidak bermaksud apa-apa.
Bagaimana hubungan percintaanmu? Aku pikir baik-baik saja, soalnya kamu tidak lari ke ketiakku dan merengek. Hubungan jarak jauh itu terkadang lebih berkualitas loh..setidaknya terhindar tuh dari dosa, iya tidak? jangan terlalu suka melarang hobby si Pacar, kita cukup ingatkan saja karena pacar jua tidak selalu benar. Satu lagi jangan panggil pacar dengan bahasa kasar ah..nanti terbiasa loh sampai tua, tidak mau kan? Oke..
Sukses yah...

-----


@hurufkecil terima kasih, aku tahu kamu akan menyampaikan ini kepada mereka.


Thursday, February 02, 2012

(20) Pangeran Kodok Lt.3


Dear Kodok,

Hei pangeran kodok? Sehat? Ini surat kedua yang aku tulis buatmu di #30harimenulissuratcinta, bukan tanpa alasan kenapa aku menulis ini untukku, nanti aku jelaskan satu persatu dan ada cerita yang mau aku bagi (lagi) kepadamu.
Dari data statistik blogku, surat yang banyak diminati untuk dibaca orang adalah surat pertamaku kepadamu, tidak tahu kenapa, mungkin mereka sama sepertiku sedang mencari “pangeran kodok” ah..tentu saja pangeran kodok yang mereka maksud berbeda dengan pangeran kodok yang aku tuju disini, yaitu kamu.
Kemudian aku ingin berterima kasih kepada @hurufkecil, Tuhan menunjuk dia menjadi pelantara kita, benar yah kita sebagai manusia terkadang lupa bahwa setiap langkah kita pasti ada campur tangan Tuhan, kita kadang baru tersadar ketika kita mendapat kebahagiaan atau misalnya terjebak di dalam situasi yang sebenarnya sudah lama kita inginkan padahal sebelumnya kita selalu berpikir tidak mungkin, tapi kemudian terkabul. Nah...kan jadinya berbunga-bunga. Kita Jadi kamupun harus berterima kasih kepada tukang posku itu dan bersyukur kepada Tuhan tentu saja, kamu bersedia?
Aku ingat sekali saat aku tulis surat pertama itu, aku merindukanmu yang sudah tidak pernah bertemu, yah..walaupun saat itu aku hanya mengakuinya sedikit saja, aku pikir aku orang yang tak pandai menghitung kadar rindu. Profesi kita ini yang selalu menciptakan jarak dalam arti sebenarnya.
Tak lama dari surat pertama itu kita bertemu, bertemu denganmu di siang boong seminggu yang itu menurutku sebuah keajaiban, aku ingat betul suaramu diujung telepon dengan nada menggebu-gebu meminta ku menunggu di landai dasar dan amu hendak turun dari singgasanamu Lt.3, akhirnya kamu mengetahui bahwa Tuhan mengijinkan aku untuk berada di suatu tempat yang sama denganmu, mungkin disini memang kerajaanmu Pangeran.
Tentu saja aku tidak menciummu supaya kamu berubah jadi pangeran tampan saat itu, karena memang kamu bukan pangeran kodok yang berwujud kodok yang akan berubah tampan setelah dicium seorang Puteri, aku hanya seorang temanmu yang sering kamu panggil Puteri Manis. Jangankan mencium kamu, kita itu bersentuhan saja tidak pernah, karena memang seharusnya tidak boleh nanti Tuhan marah, iya kan?
Temanku,
Ah..iya, ada yang aku lupakan saat itu, mengenai kotak pandora aku tidak menanyakannya kepadamu, aku pikir waktunya memang belum tepat untuk itu, aku masih dalam keadaan terluka, apalagi setelah kamu menanyakan kabar tentang temanmu itu kepadaku, aku berharap kamu dapat menyimpulkan sesuatu dari jawabanku saat itu, bahwa aku tidak begitu berkenan kamu menyebut namanya, lukaku belum sembuh dan dengan mendengar namanya dari mulutmu serasa ketumpahan air garam, perih.
Temanku,
Aku tahu kamu tidak suka aku bersedih, secantik apapun kalau bersedih pasti jadi jelek. Itu katamu. Aku tidak mau menjadi jelek. Satu lagi, aku juga sudah tidak mau jadi Puteri Manis, aku mau jadi diri sendiri saja, tapi pertemanan kita masih akan semanis dulu.

Kapan kamu memperkenalkan calon Puteri mu yang sesungguhnya kepadaku? Semoga perempuan manis yang sering memperhatikanmu itu yang akan mendampingimu sampai hari tuamu, sampai kamu sudah tidak menjadi pangeran sekalipun. Sepertinya dia periang dan baik, aku sendiri menyukai kepribadiannya. Dia lucu kaya anak ayam dan sepertinya dia juga pecinta anak ayam, bukan begitu? Salam buat perempuan itu yah dan tolong jangan tanyakan dulu keberadaan temanmu. Hatiku cukup besar buat menyembunyikan sekaligus membiarkannya tidak bisa keluar dari hatiku. Kamu percaya kepadaku bukan? Kami hanya sedang dapat sedikit ujian.
Aku berterima kasih kepada Ibu-ibu warteg tempat dimana kamu selalu makan, dia rupanya merawatmu dengan baik, kamu sedikit gemukan.
Selamat tanggal 02.02.2012 yah.


Friday, January 27, 2012

(14) I love u, Papah

Salam Hormat,

Apa kabar Pah? hari ini aku memang belum menyapa dan menanyakan kabarmu lewat telepon, tapi dalam setiap do'aku, namamu selalu kusebut di urutan kedua setelah Mamah tentunya, aku selalu berharap Papah baik-baik saja, walau kita lebih sering bejauhan dan beda kota aku tidak pernah terlalu mengkhawatirkanmu, aku sudah menitipkanmu kepada Tuhan dalam setiap do'aku.

Pah, seandainya aku ditanya dan disuruh menyebutkan 3 pria yang paling aku cintai di dunia ini, Papah lah urutan pertamanya, ini sungguh dan aku tidak sedang merayumu untuk kemudian meminta sesuatu, sejak aku kecil aku paling segan meminta sesuatu kepadamu apalagi dalam bentuk materi, jangan tanyakan kenapa, aku sendiri tidak tahu.

Papah yang aku cintai,

Ini surat cintaku yang entah keberapa untukmu, aku mau berterima kasih. Iya, aku tahu jasamu itu tidak akan pernah bisa aku bayar sampai kapanpun. Tapi paling tidak aku ingin sekali berbakti kepadamu. Seandainya kamu tahu Pah, suratmu masih aku baca berulang-ulang dan tidak jarang air mataku menetes, aku merasakan cinta yang luar biasa dalam setiap kata yang kamu rangkai.


Papah,

Boleh aku tahu, sekarang ini apa yang membuatmu khawatir tentangku? disalah satu suratmu, aku pernah membaca, semakin aku besar semakin besar pula rasa kekhawatiranmu terhadapku. Aku anakmu yang paling pertama tapi paling manja, mungkin karena adik-adikku berjenis kelamin laki-laki sedangkan aku perempuan. Belakangan ini aku sering sekali menyuruhmu mendengarkan tangisanku, katamu "menangis saja selagi ada waktu senggang". Aku selalu berharap bisa mewarisi kesabaran dan ilmu ihklasmu.

Oh iya, selain aku ini adalah anak termanjamu, aku ini anak yang paling cerewet dan terbuka, kan? ingat tidak pembicaraan kita di telepon sekitar dua minggu yang lalu, Pah? aku meminta maaf kepadamu karena aku merasa terlalu banyak bercerita dan minta pendapatmu, tapi katamu justru senang karena mengetahui langsung dari mulutmu dan anehnya kenapa Papah selalu meminta maaf juga kepadaku karena merasa tidak bisa melakukan apa-apa untukku. Itu sama sekali tidak benar, Papah...kamu itu sejenis malaikat tanpa sayap yang selalu menjagaku di dunia ini, iya walau aku tidak pernah tahu malaikat itu berjenis kelamin sepertimu atau tidak. Artikan saja kata "malaikat" yang kusebut tadi sesuka hatimu.

Pah, satu hal yang tidak pernah aku beritahukan, aku selalu berdo'a kepada Tuhan tentang jodoh yang kelak akan Tuhan kasih untukku, aku ingin jodohku itu sepertimu dan aku belum menemukannya. Sabar yah..(padahal aku mungkin yang harusnya bersabar, hehehe).

Papah,

Sebenarnya masih banyak yang mau aku tulis, tapi aku tahu matamu pun sudah semakin melemah seinging usiamu, lebih baik kapan-kapan lagi aku lanjutkan.

Papah, ijinkan aku berdo'a kepada Tuhan yah...untuk meminta jodoh lagi untukmu, aku yakin Mamah diatas disanapun setuju dengan do'aku ini, adik-adik pun sudah mengiyakan.

Sun jauh dari anakmu.
:*

P.S : Setiap kali kita ketemu, kamu selalu bilang aku semakin cantik, aku memilih untuk percaya saja kata-katamu itu.







Thursday, January 26, 2012

(13) Surat cinta buat Kereta

Dear Kereta yang membawa aku dan Mamah ke Yogyakarta


Aku tidak tahu apakah kamu masih bisa berlari dengan cepat seperti dulu (ah..aku lupa mungkin sekitar 11 atau 12 tahun silam) atau tidak, karena itu aku mau menanyakan kabar mu. Apa kabar? apakah masih setia menaungi sambil melaju membawa orang-orang berpindah tempat? semoga kamu tidak hanya akan jadi besi tua yang tidak berguna.

Entah apa yang membuatku berani menyapamu sore ini, padahal aku seorang Phobia terhadapmu atau siderodromophobia, tidak...aku tidak menyalahkanmu, hanya keadaan yang membuatku seperti ini dan aku tentunya.

Seperti yang aku bilang tadi, aku lupa kejadiannya entah sekitar tahun 2001 atau 2002, aku dan Alm. Mamah waktu itu ke Yogyakarta buat mengunjungi sanak saudara, belanja dan mengunjungi teman-teman Mamah (beliau dulunya sekolah disana), yang aku ingat aku sedang liburan sekolah makanya aku diikutsertakan. Saat itu aku dengan antusias menaiki mu, hahaha...wajarlah itu adalah pengalamanku pertama kali naik kereta.

Tapi..liburan kami menjadi tidak seindah yang dibayangkan, mungkin karena kamu kelas ekonomi, penuh berdesakan orang dan dompet Mamah ilang..kecopetan tepatnya, soalnya ada bagian tasnya yang robek, seperti sengaja kena sayatan benda tajam sejenis pisau lipat barangkali. Hidup kami berhari-hari di Yogya jadi sendu yah, walaupun kami tinggal di sodara dan mereka juga malah memberi kami uang untuk liburan. Tapi ini benar-benar membekas di benakku yang saat itu masih berumur awal belasan tahun.

Sejak itu, aku takut melihat -sejenis-mu, aku tidak pernah berfikir untuk menyembuhkan penyakitku ini dulunya...tapi sekarang aku rasa aku harus. Makannya senaja aku tulis surat ini. Kamu setuju? bagaimanapun ini sejenis penyakit yang norak -__-'.

Ada solusi buat aku tidak?


Dear kereta,

Ini adalah surat cinta buatmu  bukan surat benci. Aku tidak membencimu, aku malah merindukanmu.  Kapan kamu membawaku lagi ke kota itu? aku sudah memutuskan tali silaturahmi jadinya. Aku juga tidak cukup banyak uang untuk naik pesawat jika harus berkunjung kesana.

Sekali lagi aku tanya, kapan kamu akan mengajakku ke Kota itu? mungkin aku masih dikasih kesempatan untuk membalas kebaikan mereka saat itu kepadaku dan Alm. Mamah. Ibuku juga pasti diatas sana mengIyakan.