Aku duduk terdiam di sudut kamar memandang sore yang kian menua. Menyibak tirai kamar dengan susahnya, mungkin karena kelamaan jarang aku buka. Dulu, tempat ini menjadi tempat favoritku ketika menyendiri, termenung menjalin hubungan baik dengan diam dan jeda. Tapi belakangan ini, aku dengan kesibukan baru tidak bisa lagi sesering mungkin hanya untuk berdiri seperti ini, mengadu lelah pada kasur yang sudah 3 tahun terakhir selalu menjagaku dikala malampun bisa dihitung dengan jari perbulannya
Aku menyukai hampir semua suasana alam yang Tuhan pertontonkan, seperti pemandangan yang sedang kulihat di balik jendela saat ini. Menakjubkan. Bayangkan, Tuhan bisa berpuisi tanpa harus berkata-kata. Tuhan bisa menyentuh semua pemilik hati tanpa harus membelai. Kasih sayangnya sungguh luar biasa. Semuanya menjadi seimbang tanpa harus menelanjangi setiap makna yang kita lihat, tanpa harus bertanya “kenapa” dan “bagaimana”. Karena kita takkan mampu menemukan jawabannya selain kesempurnaanNya lah yang bisa menjadikan semuanya ini terjadi. Nampak dan nyata.
Sesuatu yang aku pikir selama ini sederhana ternyata jauh lebih lebih rumit daripada mengurai jaring laba-laba, selain dia rapuh untuk apapula diurai, bikin repot saja. Tapi ternyata kehidupan tidak demikian, ketika memang semua harus diurai satu per satu, urailah semampu kita. Aku menyadiri bahwa aku ini tidak hidup sendiri, tapi saat ini aku seperti sedang diuji Tuhan untuk berusaha sendiri, mengurai sesuatu yang belum pernah aku liat sebelumnya di kehidupanku.
Kesederhanaan itu adalah ketika aku berkata “aku akan bahagia ketika kekasihku bahagia”, tapi yang kurasakan sekarang justru rasa sakit, sakit yang entah dimana letaknya. Aku tidak menyadari keberadaan lukanya, hanya merasakannya melekat dalam tubuh, jauh..jauh didalam. Sesekali aku basuh semua itu dengan hangatnya air mata. Paling tidak aku belum mati rasa, aku masih hidup, masih bernafas seperti biasa dan masih bisa mensyukuri setiap warna yang aku terima dengan pandanganku. Seperti sore ini.
Enaknya mengeluh kepada Tuhan adalah tidak harus dengan berkata-kata dan tidak harus mempunyai pikiran buruk bahwa Tuhan tidak akan mengerti.
Aku sudah berusaha, berusaha mencintainya dan mempertahankan hubungan yang selama ini terjalin cukup baik dengan kekasih. Itulah yang menjadi dasar mengapa selama ini, aku bisa merasakan bahagia. Tapi ternyata semua ada kelanjutannya, aku akan bahagia jika dia juga mencintaiku. Berarti selama ini aku berbohong. Aku memberikan sesuatu hanya untuk meminta balasan. Seharusnya aku bahagia dengan menjadi diri sendiri, bukan "karena" atau "oleh" apa(siapa)pun. Pantas Tuhan marah kepadaku.
“Dulu aku ingin menikahimu, tapi mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan kenapa semuanya bisa seperti ini, aku harap kamu mengerti saja” ucap kekasih seminggu yang lalu melalui henpon.
“Kamu pikir, aku malaikat yang akan mengerti setiap diam yang kamu tunjukan?”
“Kita sama-sama belajar saja, belajar untuk menerima kenyataan” katanya lagi.
“Kenyataan seperti apa?”
“Kenyataan bahwa aku meminta waktu untuk merenungkan kembali hubungan kita”
“Berapa lama?”
“Sampai kita benar-benar menemukan jawabannya.”
“Aku masih kekasihmu?”
“iya”
Teleponpun terputus, rasanya sejak itu aku tidak mau terlelap. Aku tidak mau memejamkan mata barang sedetikpun, aku takut tidak bisa mencintainya lagi ketika terbangun.
...to be continued...
