Dear Kodok,
Hei pangeran kodok? Sehat? Ini surat kedua yang aku tulis
buatmu di #30harimenulissuratcinta, bukan tanpa alasan kenapa aku menulis ini
untukku, nanti aku jelaskan satu persatu dan ada cerita yang mau aku bagi (lagi)
kepadamu.
Dari data statistik blogku, surat yang banyak diminati untuk
dibaca orang adalah surat pertamaku kepadamu, tidak tahu kenapa, mungkin mereka
sama sepertiku sedang mencari “pangeran kodok” ah..tentu saja pangeran kodok yang
mereka maksud berbeda dengan pangeran kodok yang aku tuju disini, yaitu kamu.
Kemudian aku ingin berterima kasih kepada @hurufkecil, Tuhan
menunjuk dia menjadi pelantara kita, benar yah kita sebagai manusia terkadang
lupa bahwa setiap langkah kita pasti ada campur tangan Tuhan, kita kadang baru
tersadar ketika kita mendapat kebahagiaan atau misalnya terjebak di dalam
situasi yang sebenarnya sudah lama kita inginkan padahal sebelumnya kita selalu
berpikir tidak mungkin, tapi kemudian terkabul. Nah...kan jadinya berbunga-bunga.
Kita Jadi kamupun harus berterima kasih kepada tukang posku itu dan bersyukur
kepada Tuhan tentu saja, kamu bersedia?
Aku ingat sekali saat aku tulis surat
pertama itu, aku merindukanmu yang sudah tidak pernah bertemu, yah..walaupun
saat itu aku hanya mengakuinya sedikit saja, aku pikir aku orang yang tak
pandai menghitung kadar rindu. Profesi kita ini yang selalu menciptakan jarak
dalam arti sebenarnya.
Tak lama dari surat pertama itu
kita bertemu, bertemu denganmu di siang boong seminggu yang itu menurutku
sebuah keajaiban, aku ingat betul suaramu diujung telepon dengan nada
menggebu-gebu meminta ku menunggu di landai dasar dan amu hendak turun dari
singgasanamu Lt.3, akhirnya kamu mengetahui bahwa Tuhan mengijinkan aku untuk
berada di suatu tempat yang sama denganmu, mungkin disini memang kerajaanmu
Pangeran.
Tentu saja aku tidak menciummu supaya kamu berubah jadi pangeran
tampan saat itu, karena memang kamu bukan pangeran kodok yang berwujud kodok
yang akan berubah tampan setelah dicium seorang Puteri, aku hanya seorang
temanmu yang sering kamu panggil Puteri Manis. Jangankan mencium kamu, kita itu
bersentuhan saja tidak pernah, karena memang seharusnya tidak boleh nanti Tuhan
marah, iya kan?
Temanku,
Ah..iya, ada yang aku lupakan
saat itu, mengenai kotak pandora aku tidak menanyakannya kepadamu, aku pikir
waktunya memang belum tepat untuk itu, aku masih dalam keadaan terluka, apalagi
setelah kamu menanyakan kabar tentang temanmu itu kepadaku, aku berharap kamu
dapat menyimpulkan sesuatu dari jawabanku saat itu, bahwa aku tidak begitu
berkenan kamu menyebut namanya, lukaku belum sembuh dan dengan mendengar
namanya dari mulutmu serasa ketumpahan air garam, perih.
Temanku,
Aku tahu kamu tidak suka aku
bersedih, secantik apapun kalau bersedih pasti jadi jelek. Itu katamu. Aku
tidak mau menjadi jelek. Satu lagi, aku juga sudah tidak mau jadi Puteri Manis,
aku mau jadi diri sendiri saja, tapi pertemanan kita masih akan semanis dulu.
Kapan kamu memperkenalkan calon Puteri mu yang sesungguhnya kepadaku? Semoga
perempuan manis yang sering memperhatikanmu itu yang akan mendampingimu sampai
hari tuamu, sampai kamu sudah tidak menjadi pangeran sekalipun. Sepertinya dia
periang dan baik, aku sendiri menyukai kepribadiannya. Dia lucu kaya anak ayam
dan sepertinya dia juga pecinta anak ayam, bukan begitu? Salam buat perempuan
itu yah dan tolong jangan tanyakan dulu keberadaan temanmu. Hatiku cukup besar buat
menyembunyikan sekaligus membiarkannya tidak bisa keluar dari hatiku. Kamu
percaya kepadaku bukan? Kami hanya sedang dapat sedikit ujian.
Aku berterima kasih kepada
Ibu-ibu warteg tempat dimana kamu selalu makan, dia rupanya merawatmu dengan
baik, kamu sedikit gemukan.
Selamat tanggal 02.02.2012 yah.
No comments:
Post a Comment