Thursday, February 02, 2012

(20) Pangeran Kodok Lt.3


Dear Kodok,

Hei pangeran kodok? Sehat? Ini surat kedua yang aku tulis buatmu di #30harimenulissuratcinta, bukan tanpa alasan kenapa aku menulis ini untukku, nanti aku jelaskan satu persatu dan ada cerita yang mau aku bagi (lagi) kepadamu.
Dari data statistik blogku, surat yang banyak diminati untuk dibaca orang adalah surat pertamaku kepadamu, tidak tahu kenapa, mungkin mereka sama sepertiku sedang mencari “pangeran kodok” ah..tentu saja pangeran kodok yang mereka maksud berbeda dengan pangeran kodok yang aku tuju disini, yaitu kamu.
Kemudian aku ingin berterima kasih kepada @hurufkecil, Tuhan menunjuk dia menjadi pelantara kita, benar yah kita sebagai manusia terkadang lupa bahwa setiap langkah kita pasti ada campur tangan Tuhan, kita kadang baru tersadar ketika kita mendapat kebahagiaan atau misalnya terjebak di dalam situasi yang sebenarnya sudah lama kita inginkan padahal sebelumnya kita selalu berpikir tidak mungkin, tapi kemudian terkabul. Nah...kan jadinya berbunga-bunga. Kita Jadi kamupun harus berterima kasih kepada tukang posku itu dan bersyukur kepada Tuhan tentu saja, kamu bersedia?
Aku ingat sekali saat aku tulis surat pertama itu, aku merindukanmu yang sudah tidak pernah bertemu, yah..walaupun saat itu aku hanya mengakuinya sedikit saja, aku pikir aku orang yang tak pandai menghitung kadar rindu. Profesi kita ini yang selalu menciptakan jarak dalam arti sebenarnya.
Tak lama dari surat pertama itu kita bertemu, bertemu denganmu di siang boong seminggu yang itu menurutku sebuah keajaiban, aku ingat betul suaramu diujung telepon dengan nada menggebu-gebu meminta ku menunggu di landai dasar dan amu hendak turun dari singgasanamu Lt.3, akhirnya kamu mengetahui bahwa Tuhan mengijinkan aku untuk berada di suatu tempat yang sama denganmu, mungkin disini memang kerajaanmu Pangeran.
Tentu saja aku tidak menciummu supaya kamu berubah jadi pangeran tampan saat itu, karena memang kamu bukan pangeran kodok yang berwujud kodok yang akan berubah tampan setelah dicium seorang Puteri, aku hanya seorang temanmu yang sering kamu panggil Puteri Manis. Jangankan mencium kamu, kita itu bersentuhan saja tidak pernah, karena memang seharusnya tidak boleh nanti Tuhan marah, iya kan?
Temanku,
Ah..iya, ada yang aku lupakan saat itu, mengenai kotak pandora aku tidak menanyakannya kepadamu, aku pikir waktunya memang belum tepat untuk itu, aku masih dalam keadaan terluka, apalagi setelah kamu menanyakan kabar tentang temanmu itu kepadaku, aku berharap kamu dapat menyimpulkan sesuatu dari jawabanku saat itu, bahwa aku tidak begitu berkenan kamu menyebut namanya, lukaku belum sembuh dan dengan mendengar namanya dari mulutmu serasa ketumpahan air garam, perih.
Temanku,
Aku tahu kamu tidak suka aku bersedih, secantik apapun kalau bersedih pasti jadi jelek. Itu katamu. Aku tidak mau menjadi jelek. Satu lagi, aku juga sudah tidak mau jadi Puteri Manis, aku mau jadi diri sendiri saja, tapi pertemanan kita masih akan semanis dulu.

Kapan kamu memperkenalkan calon Puteri mu yang sesungguhnya kepadaku? Semoga perempuan manis yang sering memperhatikanmu itu yang akan mendampingimu sampai hari tuamu, sampai kamu sudah tidak menjadi pangeran sekalipun. Sepertinya dia periang dan baik, aku sendiri menyukai kepribadiannya. Dia lucu kaya anak ayam dan sepertinya dia juga pecinta anak ayam, bukan begitu? Salam buat perempuan itu yah dan tolong jangan tanyakan dulu keberadaan temanmu. Hatiku cukup besar buat menyembunyikan sekaligus membiarkannya tidak bisa keluar dari hatiku. Kamu percaya kepadaku bukan? Kami hanya sedang dapat sedikit ujian.
Aku berterima kasih kepada Ibu-ibu warteg tempat dimana kamu selalu makan, dia rupanya merawatmu dengan baik, kamu sedikit gemukan.
Selamat tanggal 02.02.2012 yah.


No comments:

Post a Comment