Aku tidak begitu mengingat beberapa kejadian sebelum aku terbaring di ruangan putih-biru ini. Semua serba putih kecuali tirai berwarna biru tua yang mengelilingiku. Bau yang sangat khas dan selang kecil yang tersambung di lengan kiriku, mengumpulkan sedikit demi sedikit memori yang sedari tadi aku cari. Terakhir aku masih berdiri di depan jendela kamar sambil merasakan tiupan angin yang membuat badanku menggigil dan tidak lama aku merasakan sakit hebat didaerah perut. Sudah, segitu yang kuingat.
Sudut mata kananku menangkap sesosok berbaju putih bergaris hitam halus, dia sedang duduk disopa putih dengan kepala disangga kedua tangannya. Aku tahu persis siapa orang itu. Dia kekasihku - Rady. Tidak lama ada tirai terbuka oleh seorang yang aku pikir dia adalah dokter. Tidak tahu persis apa yang terjadi, Rady mengikuti dokter itu keluar dari tirai tempatku terbaring. Mengapa aku bisa di tempat ini dan Rady...Rady kenapa ada disini? bukankah dia lagi menjauhiku? Semakin banyak pertanyaan yang memenuhi kepalaku dan satupun tidak ku temukanjawabannya.
“Istri anda mengalami thypus dan kondisi badannya sangat lemah sepertinya dia belum makan hari ini.” Suara dokter itu sangat jelas terdengar. Istri? Siapa istri yang dimaksud?
“Tapi.....” Suara Rady terdengar terbata-bata. Benar saja dokter itu sedang berbicara dengan Rady, siapa yang sebenarnya mereka bicarakan? Jelas aku bukan istrinya, tapi yang terbaring sakit saat ini adalah aku. Dokter telah salah menduga. Kami belum menikah, mungkin wajahku terlihat menua ketika sakit, atau wajah Rady yang memang terlihat jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya, atau mungkin saja kami memang cocok menjadi pasangan suami istri. Khayalanku memudar ketika mendengar suara tertawa dokter yang sengaja ditahan supaya tidak terlalu keras.
“Anda tidak perlu khawatir berlebihan, sekarang dia hanya tertidur, kondisinya segera membaik jika anda merawatnya dengan baik, perhatikan pola makan dan makanan apa yang dia makan, tadinya saya pikir istri anda hamil, tapi ternyata tidak, sabar...mungkin belum dikasih kepercayaan sama yang diatas” Dokter itu berbicara tanpa henti seolah tidak memberi peluang buat Rady berbicara, mungkin sebenarnya Rady ingin menyangkal penyataan istri yang selalu terlontar dari mulut Dokter sepertinya sudah berumur separuh baya.
Masih banyak yang mereka bicarakan, hanya saja tidak banyak kata yang keluar dari mulut Rady. Sekujur tubuhku rasanya ngilu, aku kembali memejamkan mata.
Masih dalam keadaan mata yang tertutup, aku merasakan ada tangan yang menyentuh halus keningku, sepertinya sedang merapihkan beberapa helai rambutku yang mungkin berantakan, tentu saja aku tahu itu tangan Rady. “Aku tahu kamu sudah bangun, aku sudah menelpon adikmu buat menjagamu, mungkin sebentar lagi dia sampai...apa yang kamu rasain sekarang?”
“Dingin” kataku pelan.
“Kamu harus makan, dan sekarang coba minum dulu...pelan-pelan saja” katanya sambil menyodorkan air putih dalam gelas. Masih dalam keadaan terbaring lemah, aku memimumnya perlahan memakai sedotan. Gelas itu dia simpan kembali dimeja samping tempat tidurku, aku sengaja menatap matanya. Iya, aku memang sedang mencari sesuatu yang aku rasakan telah hilang. Cinta. Aku mencari cinta lewat matanya untuk yang kedua kalinya. Pertama, dulu sekali saat dia mengajakku ke atas sebuah gedung, dimana Rady memintaku menjadi pacarnya.
“Kamu kalau lagi sakit, jelek yah?” Pertanyaan itu yang membuatku tidak sempat menyadari jawaban atas sesuatu yang aku cari tadi.
“Tidak sakitpun bukannya kamu sering bilang kalau aku ini jelek”
Sejak sore itu, aku tidak menemukan lagi sosok Rady sampai aku meninggalkan Rumah sakit seminggu kemudian. Tidak ada telepon ataupun sekedar sms dan tidak ada seorangpun yang mempertanyakan keberadaannya tapi aku merindukannya.
***to be continued***
No comments:
Post a Comment