Wednesday, March 07, 2012

11 Februari 2012


Aku merasa pertemuan sore ini adalah pertemuan kita terakhir, entah apa yang membuat keyakinan itu menjadi semakin dalam, sejauh ini aku masih punya keyakinan yang sama. Kamu tahu, aku ingin keyakinan itu berubah dan aku merasa kamulah yang punya kekuatan untuk meminta hal tersebut kepada Tuhan, bagaimana?

Angin, Senja, gedung-gedung pencakar langit, senyummu bersama deraan sinar matahari berbias orange, itu menjadi serangkaian sesuatu yang aku suka.

Alunan melodi tentang cinta –jatuh- cinta kemudian berselang dengan lagu patah hati, apakah cinta demikian adalanya seperti kita? Aku tenggak lagi minuman yang segaja aku pesan dua gelas. Sayangnya aku hanya bisa mengabadikan potret itu dalam benak saja. Tak apa. Aku menyukainya, (masih) menyukaimu maksudku. Tapi tidak harus aku katakan berulang-ulang lagi kepadamu bukan?

Banyak sekali kalimat tanya menggantung begitu saja bersama harapan yang sudah kita tinggalkan sejak malam itu. Apapun yang keluar dari mulutmu memang seolah bukan jawaban kataku, padahal bukan begitu, aku hanya sedang melawan arusku, pikirku begitulah caraku menguatkanmu dan sekaligus melemahkanku. Melawan semua yang kamu sebut suatu saat akan kumengerti dan sampai sekarang aku belum bisa mengerti. Nampak sekali aku begitu bodoh dengan semua ketulusanku.

Diam-diam aku mencari sepotong cinta di kedua bola matamu yang kamu lindungi lewat lensa bening itu. Masih ada menurutku, tapi melemah.

Ada pembelaan?

Aku tahu, kamu akan tetap diam dan pasrah.

Andai aku bisa menangis lagi di pundak itu. Pundak yang bukan milikku lagi.

Andai aku masih bisa menggenggam tangan itu. Tangan yang bukan milikku lagi.

Aku sudah utuh mengembalikan semua yang dulu milikku, kalau begitu kapan kamu kembalikan separuh hati yang pernah kamu curi? Aku tidak bisa hidup lama jika setiap langkahku harus dengan setengah hati, itu membuat sesak. Kapan? Jangan terlalu lama, waktu tidak sedang bermanja-manja menunggu keragu-raguanmu lagi.

Setiap malam do’aku masih sama, aku tidak ingin membencimu dengan cinta.

 Tuhan, peluk aku! ketika aku menangis sampai menggigil. Karena dia memilih pergi demi sesuatu yang lebih baik dan aku ingin belajar lebih pasrah demi sesuatu yang akan membuat orang yang aku cintai bahagia. Setidaknya sampai saat ini, kata hati seperti itu.


(catatan penutup malam di hari sabtu, 12 Februari 2012)

<....>

Saturday, March 03, 2012

Kepada seseorang yang selalu jauh cinta pada diri sendiri karen kemampuannya bersiasat, sampai kapan akan terus seperti itu? tidak semua masalah, bahkan menurutku tidak akan ada masalah yang akan terselesaikan jika kamu masih selalu mengandalkan kepintaranmu bersiasat.

Sunday, February 05, 2012

(23) 2 kurcaci

Kalian, aku tahu dalam keadaan baik, surat ini aku tulis saat kalian terlelap disampingku, wajah kalian nampak lelah tapi bahagia,aku perhatikan wajah kalian satu persatu. Seharian kalian lebih banyak dengan tertawa seolah tanpa masalah dan beban padahal terkadang kalian menangis jika tetangga kita itu normalnya kabuh, Hahaha..tetangga memang normalnya ngomel-ngomel jadi kalau dia baik, kita sebut tidak normal. Jadi ini yang jahat sebenarnya siapa coba?

Tidak usah bingung kenapa aku menulis surat ini untuk kalian “2kurcaciku” dievent #30harimenulissuratcinta ini, alasannya sederhana karena aku sayang kalian. Kalian menyayangiku juga bukan? Ingat tidak harapan kita, sesuatu saat kelak, mungkin kita akan hidup masing-masing dan kita selalu berharap cerita kita ini akan dikenang suatu saat pas waktunya tiba. Tentu saja ini kenangan yang lucu dan menyenangkan.
Aku sendiri lupa, sejak kapan kalian ngenggapku Ibu disini, kesannya memang terlihat tua sekali aku ini, padahal kita cuma terpaut usia 4-6 tahun bukan? Ketika aku lelah, kalian lah obatnya yang bisa bikin aku tertawa lagi, liat kalian bercanda atau berantem kecil sesaat sebelum tertidur itu moment yang menyenangkan walaupun terkadang tangan kalian mengenai tubuhku (terpukul) karena bercanda berlebihan, tapi tak apa. Itu bukan masalah besar.
Oh iya, Aku justru yang belajar banyak dari kalian, terima kasih yaa. Aku belajar lebih wise. Walaupun belakangan ini aku sering menasehati kalian, tapi itu sebenarnya buat mengingatkanku juga, iya..jaga diri kalian dan aku selalu mengingatkan kalian jangan sampai melukai hati orang yang kalian cintai dan yang mencintai kalian (dalam hal ini pacar kalian misalnya), supaya kalian mengerti betul apa itu menghargai cinta. Jangan berbicara kasar. Hubungan kalian akan terasa lebih nyaman nantinya. Sama halnya ke orang tua kalian yang sebenarnya. Hehehe.
Aku berusaha bijaksana dihadapan kalian supaya kelak aku bisa benar-benar menjadi orang yang bijaksana.
Hei kamu, kaka...yang lagi dilema karena sedang merasa titik jenuh dalam hubungan percintaan, itu hanya ujian dan itu wajar, setiap hubungan pasti akan mengalami itu, berhasil tidaknya melewati ujian itu, tergantung kaliannya. Aku harap apapun yang terjadi itu yang terbaik, coba diingat masa-masa menyenangkan antara kalian, jangan selalu menggagungkan ego, tidak baik. Belajar sedikit demi sedikit yuk..
Terus jangan jadi seorang pendendam yah, Tuhan Maha adil, aku sedih melihtmu sakit sampai masuk UGD kaya tempo lalu itu. Orang yang jahat kepada kita tidak harus dibalas dengan kejahatan. Oke!
Sukses yaah..

Hei kamu, ade...Gadis ceria dan centil..luar biasa sekali, awalnya aku sendiri tidak mengangka kamu itu bisa kuat ngehadapin masalah, aku tahu itu. Awalnya aku fikir kamu hanya gadis manja, tapi ternyata tidak. Pertahankan yah..dan maaf aku selalu mengingatkan mu ketika di luar rumah untuk tidak terlalu centil, hahaha..aku harap kamu tidak tersingung, tidak bermaksud apa-apa.
Bagaimana hubungan percintaanmu? Aku pikir baik-baik saja, soalnya kamu tidak lari ke ketiakku dan merengek. Hubungan jarak jauh itu terkadang lebih berkualitas loh..setidaknya terhindar tuh dari dosa, iya tidak? jangan terlalu suka melarang hobby si Pacar, kita cukup ingatkan saja karena pacar jua tidak selalu benar. Satu lagi jangan panggil pacar dengan bahasa kasar ah..nanti terbiasa loh sampai tua, tidak mau kan? Oke..
Sukses yah...

-----


@hurufkecil terima kasih, aku tahu kamu akan menyampaikan ini kepada mereka.


Thursday, February 02, 2012

(20) Pangeran Kodok Lt.3


Dear Kodok,

Hei pangeran kodok? Sehat? Ini surat kedua yang aku tulis buatmu di #30harimenulissuratcinta, bukan tanpa alasan kenapa aku menulis ini untukku, nanti aku jelaskan satu persatu dan ada cerita yang mau aku bagi (lagi) kepadamu.
Dari data statistik blogku, surat yang banyak diminati untuk dibaca orang adalah surat pertamaku kepadamu, tidak tahu kenapa, mungkin mereka sama sepertiku sedang mencari “pangeran kodok” ah..tentu saja pangeran kodok yang mereka maksud berbeda dengan pangeran kodok yang aku tuju disini, yaitu kamu.
Kemudian aku ingin berterima kasih kepada @hurufkecil, Tuhan menunjuk dia menjadi pelantara kita, benar yah kita sebagai manusia terkadang lupa bahwa setiap langkah kita pasti ada campur tangan Tuhan, kita kadang baru tersadar ketika kita mendapat kebahagiaan atau misalnya terjebak di dalam situasi yang sebenarnya sudah lama kita inginkan padahal sebelumnya kita selalu berpikir tidak mungkin, tapi kemudian terkabul. Nah...kan jadinya berbunga-bunga. Kita Jadi kamupun harus berterima kasih kepada tukang posku itu dan bersyukur kepada Tuhan tentu saja, kamu bersedia?
Aku ingat sekali saat aku tulis surat pertama itu, aku merindukanmu yang sudah tidak pernah bertemu, yah..walaupun saat itu aku hanya mengakuinya sedikit saja, aku pikir aku orang yang tak pandai menghitung kadar rindu. Profesi kita ini yang selalu menciptakan jarak dalam arti sebenarnya.
Tak lama dari surat pertama itu kita bertemu, bertemu denganmu di siang boong seminggu yang itu menurutku sebuah keajaiban, aku ingat betul suaramu diujung telepon dengan nada menggebu-gebu meminta ku menunggu di landai dasar dan amu hendak turun dari singgasanamu Lt.3, akhirnya kamu mengetahui bahwa Tuhan mengijinkan aku untuk berada di suatu tempat yang sama denganmu, mungkin disini memang kerajaanmu Pangeran.
Tentu saja aku tidak menciummu supaya kamu berubah jadi pangeran tampan saat itu, karena memang kamu bukan pangeran kodok yang berwujud kodok yang akan berubah tampan setelah dicium seorang Puteri, aku hanya seorang temanmu yang sering kamu panggil Puteri Manis. Jangankan mencium kamu, kita itu bersentuhan saja tidak pernah, karena memang seharusnya tidak boleh nanti Tuhan marah, iya kan?
Temanku,
Ah..iya, ada yang aku lupakan saat itu, mengenai kotak pandora aku tidak menanyakannya kepadamu, aku pikir waktunya memang belum tepat untuk itu, aku masih dalam keadaan terluka, apalagi setelah kamu menanyakan kabar tentang temanmu itu kepadaku, aku berharap kamu dapat menyimpulkan sesuatu dari jawabanku saat itu, bahwa aku tidak begitu berkenan kamu menyebut namanya, lukaku belum sembuh dan dengan mendengar namanya dari mulutmu serasa ketumpahan air garam, perih.
Temanku,
Aku tahu kamu tidak suka aku bersedih, secantik apapun kalau bersedih pasti jadi jelek. Itu katamu. Aku tidak mau menjadi jelek. Satu lagi, aku juga sudah tidak mau jadi Puteri Manis, aku mau jadi diri sendiri saja, tapi pertemanan kita masih akan semanis dulu.

Kapan kamu memperkenalkan calon Puteri mu yang sesungguhnya kepadaku? Semoga perempuan manis yang sering memperhatikanmu itu yang akan mendampingimu sampai hari tuamu, sampai kamu sudah tidak menjadi pangeran sekalipun. Sepertinya dia periang dan baik, aku sendiri menyukai kepribadiannya. Dia lucu kaya anak ayam dan sepertinya dia juga pecinta anak ayam, bukan begitu? Salam buat perempuan itu yah dan tolong jangan tanyakan dulu keberadaan temanmu. Hatiku cukup besar buat menyembunyikan sekaligus membiarkannya tidak bisa keluar dari hatiku. Kamu percaya kepadaku bukan? Kami hanya sedang dapat sedikit ujian.
Aku berterima kasih kepada Ibu-ibu warteg tempat dimana kamu selalu makan, dia rupanya merawatmu dengan baik, kamu sedikit gemukan.
Selamat tanggal 02.02.2012 yah.


Friday, January 27, 2012

(14) I love u, Papah

Salam Hormat,

Apa kabar Pah? hari ini aku memang belum menyapa dan menanyakan kabarmu lewat telepon, tapi dalam setiap do'aku, namamu selalu kusebut di urutan kedua setelah Mamah tentunya, aku selalu berharap Papah baik-baik saja, walau kita lebih sering bejauhan dan beda kota aku tidak pernah terlalu mengkhawatirkanmu, aku sudah menitipkanmu kepada Tuhan dalam setiap do'aku.

Pah, seandainya aku ditanya dan disuruh menyebutkan 3 pria yang paling aku cintai di dunia ini, Papah lah urutan pertamanya, ini sungguh dan aku tidak sedang merayumu untuk kemudian meminta sesuatu, sejak aku kecil aku paling segan meminta sesuatu kepadamu apalagi dalam bentuk materi, jangan tanyakan kenapa, aku sendiri tidak tahu.

Papah yang aku cintai,

Ini surat cintaku yang entah keberapa untukmu, aku mau berterima kasih. Iya, aku tahu jasamu itu tidak akan pernah bisa aku bayar sampai kapanpun. Tapi paling tidak aku ingin sekali berbakti kepadamu. Seandainya kamu tahu Pah, suratmu masih aku baca berulang-ulang dan tidak jarang air mataku menetes, aku merasakan cinta yang luar biasa dalam setiap kata yang kamu rangkai.


Papah,

Boleh aku tahu, sekarang ini apa yang membuatmu khawatir tentangku? disalah satu suratmu, aku pernah membaca, semakin aku besar semakin besar pula rasa kekhawatiranmu terhadapku. Aku anakmu yang paling pertama tapi paling manja, mungkin karena adik-adikku berjenis kelamin laki-laki sedangkan aku perempuan. Belakangan ini aku sering sekali menyuruhmu mendengarkan tangisanku, katamu "menangis saja selagi ada waktu senggang". Aku selalu berharap bisa mewarisi kesabaran dan ilmu ihklasmu.

Oh iya, selain aku ini adalah anak termanjamu, aku ini anak yang paling cerewet dan terbuka, kan? ingat tidak pembicaraan kita di telepon sekitar dua minggu yang lalu, Pah? aku meminta maaf kepadamu karena aku merasa terlalu banyak bercerita dan minta pendapatmu, tapi katamu justru senang karena mengetahui langsung dari mulutmu dan anehnya kenapa Papah selalu meminta maaf juga kepadaku karena merasa tidak bisa melakukan apa-apa untukku. Itu sama sekali tidak benar, Papah...kamu itu sejenis malaikat tanpa sayap yang selalu menjagaku di dunia ini, iya walau aku tidak pernah tahu malaikat itu berjenis kelamin sepertimu atau tidak. Artikan saja kata "malaikat" yang kusebut tadi sesuka hatimu.

Pah, satu hal yang tidak pernah aku beritahukan, aku selalu berdo'a kepada Tuhan tentang jodoh yang kelak akan Tuhan kasih untukku, aku ingin jodohku itu sepertimu dan aku belum menemukannya. Sabar yah..(padahal aku mungkin yang harusnya bersabar, hehehe).

Papah,

Sebenarnya masih banyak yang mau aku tulis, tapi aku tahu matamu pun sudah semakin melemah seinging usiamu, lebih baik kapan-kapan lagi aku lanjutkan.

Papah, ijinkan aku berdo'a kepada Tuhan yah...untuk meminta jodoh lagi untukmu, aku yakin Mamah diatas disanapun setuju dengan do'aku ini, adik-adik pun sudah mengiyakan.

Sun jauh dari anakmu.
:*

P.S : Setiap kali kita ketemu, kamu selalu bilang aku semakin cantik, aku memilih untuk percaya saja kata-katamu itu.







Thursday, January 26, 2012

(13) Surat cinta buat Kereta

Dear Kereta yang membawa aku dan Mamah ke Yogyakarta


Aku tidak tahu apakah kamu masih bisa berlari dengan cepat seperti dulu (ah..aku lupa mungkin sekitar 11 atau 12 tahun silam) atau tidak, karena itu aku mau menanyakan kabar mu. Apa kabar? apakah masih setia menaungi sambil melaju membawa orang-orang berpindah tempat? semoga kamu tidak hanya akan jadi besi tua yang tidak berguna.

Entah apa yang membuatku berani menyapamu sore ini, padahal aku seorang Phobia terhadapmu atau siderodromophobia, tidak...aku tidak menyalahkanmu, hanya keadaan yang membuatku seperti ini dan aku tentunya.

Seperti yang aku bilang tadi, aku lupa kejadiannya entah sekitar tahun 2001 atau 2002, aku dan Alm. Mamah waktu itu ke Yogyakarta buat mengunjungi sanak saudara, belanja dan mengunjungi teman-teman Mamah (beliau dulunya sekolah disana), yang aku ingat aku sedang liburan sekolah makanya aku diikutsertakan. Saat itu aku dengan antusias menaiki mu, hahaha...wajarlah itu adalah pengalamanku pertama kali naik kereta.

Tapi..liburan kami menjadi tidak seindah yang dibayangkan, mungkin karena kamu kelas ekonomi, penuh berdesakan orang dan dompet Mamah ilang..kecopetan tepatnya, soalnya ada bagian tasnya yang robek, seperti sengaja kena sayatan benda tajam sejenis pisau lipat barangkali. Hidup kami berhari-hari di Yogya jadi sendu yah, walaupun kami tinggal di sodara dan mereka juga malah memberi kami uang untuk liburan. Tapi ini benar-benar membekas di benakku yang saat itu masih berumur awal belasan tahun.

Sejak itu, aku takut melihat -sejenis-mu, aku tidak pernah berfikir untuk menyembuhkan penyakitku ini dulunya...tapi sekarang aku rasa aku harus. Makannya senaja aku tulis surat ini. Kamu setuju? bagaimanapun ini sejenis penyakit yang norak -__-'.

Ada solusi buat aku tidak?


Dear kereta,

Ini adalah surat cinta buatmu  bukan surat benci. Aku tidak membencimu, aku malah merindukanmu.  Kapan kamu membawaku lagi ke kota itu? aku sudah memutuskan tali silaturahmi jadinya. Aku juga tidak cukup banyak uang untuk naik pesawat jika harus berkunjung kesana.

Sekali lagi aku tanya, kapan kamu akan mengajakku ke Kota itu? mungkin aku masih dikasih kesempatan untuk membalas kebaikan mereka saat itu kepadaku dan Alm. Mamah. Ibuku juga pasti diatas sana mengIyakan. 

Wednesday, January 25, 2012

(12) kalian begitu istimewa

for Him/His who always believed me, thank a lot.
although I often disappointing.

Selamat sore langit Jakarta, seperti yang saya baca tadi pagi lewat linikala saya bahwa hari ini sebagian wilayah Jabodetabek akan diguyur hujan dan angin. Hati-hati buat sodara-sodara ku yang dalam perjalanan, banyak pohon tumbang yang tak pandang siapa yang ada di bawahnya dan menimpa.

Surat ini memang tidak berkepala surat hanya untuk satu orang, tapi semua yang orang yang secara langsung maupun tidak langsung berinteraksi dengan kehidupan saya, saya hanya ingin berterima kasih. Kenapa? karena saya merasa tidak akan bisa hidup tanpa kalian, tanpa kasih sayang kalian yang selama ini sudah kalian berikan kepada saya dan saya belum "sempat" menyucapkan terima kasih.

Belakangan, entah ini hanya bentuk ke-GR-an saya atau bukan, saya hanya merasa sedang diuji untuk sebuah kedewasaan oleh Tuhan, saya merasa saya akan naik kelas ketika berhasil melalui masa ini. Mungkin ini adalah masa yang baru pertama kali saya hadapi, dimana saya harus bertindak lebih bijaksana kepada diri sendiri sekaligus orang lain, dimana saya harus lebih banyak belajar lagi mengenai ilmu Ihklas dan keluar dari Zona nyaman itu memang luar biasa susah, tapi dalam kehidupan memang kita tidak mungkin terus menerus ada dalam zona nyaman jika mau lebih berhasil.

Keadaan ini secara kasat mata seperti sedang menyiksa saya dan memaksa saya melakukan sesuatu yang tidak saya sukai tetapi saya bersyukur, setidaknya saya sadar sepenuhnya bahwa ini harus saya lalui dan pasti terlalui, Tuhan itu tidak akan pernah menguji umatnya diluar kemampuan.

Terima kasih atas dukungan semuanya dan saya akui kadang tindakan saya dibawah emosi yang berlebihan, mungkin saya menyinggung kalian. Kalian itu begitu istimewa, saya sangat beruntung berada di lingkungan yang selalu mencintai saya.

Saya akan balas cinta kalian dengan tulus, dengan cara saya yang semoga berkenan di hati kalian.


-love much-




Tuesday, January 24, 2012

(11) Terima Kasih Teman

Dear pitty_friendssmile.

Sayang sekali yah lw ga punya akun twitter, gw ga bisa mention surat "cinta" ini ke lw.

Jakarta, 24 Januari 2012

Iya, gw sekarang udah di Jakarta lagi, baru balik dari Bandung tapi ga bawa oleh-oleh buat lw. :D Sekarang ini gw lagi nyuri-nyuri waktu disela kesibukan kerja buat nulis surat electronik ini ke lw, kalau ga salah ini surat kedua yang gw ketik buat lw, bulan kemaren gw juga nulis surat panjang lebar yang pastinya nyita waktu, tapi lw tetep bales surat gw dengan kerendahan hati dengan kesabaran ngehadapin gw yang umurnya dibawah lw 3tahun -kalo ga salah-  tapi pemikiran gw kadang terlalu kekanak-kanakan pastinya dimata lw.

Ga jauh beda sih dari surat pertama gw, yang pasti gw mau berterima kasih kepada lw yang sudah mau (entah kepaksa atau tidak) jadi temen gw -hehehe- sedikit banyak lw berpengaruh sih di kehidupan gw.

Makasih untuk kuping lw yang mau dengerin curhatan, tangisan bahkan kadang sedikit teriak-teriakan yang selalu ga sadar gw lakukan saat gw emosi.

Makasih buat tempat tidur, toilet kostan, motor, sama payung lw. Seandainya sekarang gw bisa meluk lw, gw akan lakuin itu. Ini serius :)

Bener kata lw bahagia itu kita sendiri yang ciptain, ah terkadang gw suka dengan gertakan lw saat gw melemah, banyak banget pertanyaan lw yang belum gw jawab...haduh, gw berhutang sama lw atas jawaban-jawaban itu. Kalau tidak salah lw akan menagih di beberapa bulan kedepan. Ah..lebih baik lw lupa saja!!

lw tahu ga, sehabis nyampe rumah setelah kita makan di D'cost Gading Sport Mall minggu lalu, gw cengar cengir sendiri, pikir gw itu hal terbodoh dan terbenar yang pernah gw lakuin sepanjang hidup gw, mana ada celebration gara-gara satu hal kemaren itu, tidak usah dijelaskan yah, lw tahu sendiri yang akhirnya gw harus traktir lw. Gimana lw udah menagih janji ke teman lw ga untuk traktiran? jangan cuma ke gw doang, hahaha.

harapan gw, pas lw selese baca surat ini lw senyum yah..ibadah loooh..yah walaupun lagi-lagi gw ini emang temen lw yang paling merepotkan. Maaf yaa..kita beda suku tapi ga musuhan kan?? kita temenan kan? iya kan? *maksa

Sebagai gantinya, gw do'ain lw deh..bahagia dengan kehidupan lw, semua yang lw ingin tercapai jika itu baik buat lw dan keluarga..satu lagi, lw hamil dong..biar tambah bulet badan lw, nanti gw kasih kado buat anak lw deh yang terlucu...ingat pesan gw yah kalau lw punya anak kelak.

P.S : salam buat suami lw yah (dan bukan salam pramuka)....gw selalu ingat kata-kata yang ini "kalau dia baik, dia akan baik selamanya"


Salam cinta buat lw.



#30harimenulissuratcinta cc @hurufkecil


Monday, January 23, 2012

(09) Kota Kembangku

Untuk kamu yang sedang melaju,
menjauh atau mendekat
Bandung, 23 Januari 2012

Untuk alasan kamu aku berada disini dan untuk alasan kamu pula aku menulis surat ini. 3hari yang lalu selepas pulang kerja aku menjauh dari hiruk pikuk ibu kota. Apakabar kamu yang sedang dalam perjalanan?  disini, langit siang rupanya tetap pada pendiriannya untuk terus menyampaikan dingin ke tanah lewat hujan yang kian menipis. Kota Kembang ini selalu membuatku kedinginan.

Seperti yang kamu tahu dari awal pertemuan, disinilah kota kelahiranku, dan sejak 24 tahun selam sejak aku dilahirkan, aku tidak pernah bertanya "kenapa aku di lahirkan di Kota ini?"

Semua yang terjadi belakangan kepada hubungan kita seolah menyudutkanku, kabarnya kota kelahiranku pun menjadi pilar besar penghalang cintamu kepadaku, sampai sekarang tidak tahu titik kesalahanku dimana.
Aku tidak pernah meminta dilahirkan dari rahim siapa, apalagi memilih di kota mana aku dilahirkan. Aku rasa kamupun (dan semua orang) sama demikian. Jikapun sekarang aku bertanya "kenapa" bukan berarti ada penyesalan atau menyalahkan keadaan, apalagi untuk menyalahkanmu tak ada sedikitpun dalam benakku.

Kamu yang sekarang sedang melaju entah mendekat atau menjauhiku, melalui surat ini aku hanya ingin memberi tahukan betapa aku bangga di lahirkan di Kota ini dan memang demikian adanya yang tertuang di akta kelahiranku sejak 1988 silam.

Sekian.

Titip cinta untukmu lewat dinginnya kota kembangku.

---

Friday, January 20, 2012

Tuhan itu begitu dekat, belakangan ini malah aku merasa Tuhan selalu mengabulkan do'a-do'a ku..
harus diakui aku tetap merasa kurang bijaksana, "bodohnya" aku kadang merasa tidak siap setelah do'a itu terkabul.

Aku ingin mencintaiMu lebih dari sekarang, Tuhan.

Thursday, January 19, 2012

(06) Guru titipan Tuhan

Kepada :
  1. Amarah yang memaksaku tersenyum
  2. Waktu yang terus meggoda
  3. Tangan yang bisa memeluk untuk kemudian melepaskannya

Aku belajar hal baru tanpa harus menjadi selain aku, kamu yang sedang menjelma menjadi guru titipan Tuhan, yang kadang aku anggap kurang bijaksana, Selamat Siang!

Apa pelajaran hari ini? atau kamu mau menagih jawaban atas tugas yang kamu beri tempo lalu? Aku sudah siapkan dalam kertas putih bergaris, aku jawab dengan panjang lebar tanpa berbicara, sepertinya itu akan lebih membuatmu nyaman dalam mengoreksinya.

Aku juga tidak ikut sertakan air mata, nanti kertasnya robek dan aku tampak buruk rupa jika semalaman menangis, paginya saat aku terbangun mataku seperti mata monster. Sedangkan aku harus berbaik hati kepada mata supaya beruntung menjalani godaanmu yang lain saat bekerja demi selembar atau puluhan lembar uang. Ini juga sebuah kewajiban yang harus aku lalui dengan mengikutsertakan suka dan cinta, hei..tidak usah cemburu yah kamu!

Wahai amarah, waktu dan tangan...aku tidak menyalahkanmu, aku hanya berharap bisa tersenyum tanpa menyembunyikan amarah, bisa menggunakan waktu untuk mencintai dan dicintai, bisa menggunakan tangan untuk memeluknya ketika merindu, bukan ketika kamu memaksaku berpisah dengannya.

Mengertilah, aku dan dia hanya sedang berproses belum ada pengharapan apapun, kecuali saling menyempurnakan. Bukankah itu suatu keindahan?
amarah, surat ini bukan untuk mengusirmu, aku hanya butuh sedikit pengertianmu.

waktu, surat ini bukan untuk membunuhmu hinga berhenti berputar, aku hanya ingin menikmatimu bersamanya.

tangan, surat ini bukan untuk menjadikanmu lumpuh, mati rasapun tak boleh, aku ingin jarinya masuk ke jarimu hingga hangat..bukankah kamu mencintai "cinta"?

Bagaimana dengan jawaban-jawabanku? aku "lulus"?

<3

Wednesday, January 18, 2012

(05) Surat untuk suami

aku menemukan surat yang ditulis sekitar 10thn yang lalu oleh Alm. Mamah untuk suaminya (Papah ku), ketika mereka terpisah kota, Mamah yang harus menjalani pengobatan kanker-nya di luar kota, dan Papah menjaga kami (bertiga) di rumah.

Untuk mengenang cinta dan kebahagiaan mereka, yang menjadikan aku (dan adik-adik ku) sampai ke dunia ini.

[Yogyakarta, 10 Juli 2002]
Suamiku....terimakasih yah kejutan suratnya yang terselip dan itu membuat terharu dan tangisan yang rasanya begitu Lies bahagia dan bangga padamu dan kebaikanmu selama ini & mudah-mudahan Lies sebagai istri bisa seperti apa yang diharapkan suaminya. Amin.
Suamiku tsy...apa yang terjadi pada kita atas kehendak-Nya, mari kita hadapi bersama-sama agar beban yang terasa berat ini hilang dan mampu kita tepiskan bersama...berdo’alah selalu dan memohon ampunan-Nya atas dosa-dosa yang telah kita perbuat dahulu dan semoga kita tidak mengulanginya lagi.
Suamiku...aku begitu bahagia sekali hidup sama kamu selama ini atas kekurangan dan kelebihanmu begitu juga sebaliknya mudah-mudahan do’a kita tercapai dan apa yang terjadi ini bisa cepat kita selesaikan.

Suamiku...jaga anak-anak kita..buah hati cinta kita berdua...dan aku selalu yakin kebahagiaan selalu bersama kita.
Ach..dah dulu yah..sun sayang juga untuk anak-anak tolong sampai-in.

Wasalam
 Cinta

***

"aku selalu bangga dengan cinta dan ketulusan mereka. Terima kasih Tuhan mereka orang tua yang sempurna bagiku"

Monday, January 16, 2012

(03) pagi buta

Dear no name,

Aku tidak pernah berkenalan denganmu, makannya aku tidak tahu siapa namamu, aku hanya pernah dibawa seseorang berulang kali ke tempatmu, maka aku tidak akan menanyakan kabar atau tidak bermaksud pula berkenalan denganmu melalui surat ini.

Maafkan aku tidak pernah berterima kasih kepadamu, tempatmu yang sunyi itu selalu mengajarkanku tentang getaran yang lebih hebat, tentang degup yang lebih kencang, tentang sesak yang membahagiakan, tentang cinta. Stttt...jangan kamu tanyakan soal detak jantung seseorang selain aku, dia telah memutuskan untuk pergi. Percuma saja jika kamu merindukannya, dia mungkin tidak akan kembali, tapi aku tidak sampai hati menyebut dia pengecut, Tuhan tidak mengijinkan aku seperti itu.


Tapi, kalau kamu tetap memaksa merindukannya, baiklah...aku akan akui sesuatu juga, aku bahkan lebih merindukannya. Ingin sekali aku mengunjungimu bersamanya.

Jadi bagaimana ?

ehm..sebenarnya aku malu kepadamu...inilah inti suratku sebenarnya,

Aku sudah tidak bisa lagi berdiam diri, aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu...bagaimana jika kamu membantuku saja. Bantu aku untuk membujuknya supaya dia mengajakku kembali kepadamu seperti dulu.

Mau tidak?

Atau bilang kepadanya, tak usah menjemputku juga tak apa, kita langsung bertemu di tempatmu nanti. NANTI!

Iya aku akan menunggunya di tempatmu.

P.S : dia yang ngasih tahu aku, bahwa namamu itu pagi buta.

#30harimenulissuratcinta

Sunday, January 15, 2012

(02) Pangeran Kodok

Dear freak,

Apa kabar ya kamu?

Sengaja aku awali dengan kalimat pertama klasik yang slalu ada dalam setiap surat, lama sekali aku tak berjumpa denganmu di dunia nyata maupun maya. Sepertinya memang kita terbiasa dengan jarak walaupun kita duduk bersebelahan. Kita sama-sama pecinta keyboard kan? jadi cukup jari kita yang tahu indahnya rasa ketika menari liar diatasnya.

Aku bukan tanpa alasan menulis surat ini, boleh lah sedikit rindu aku sisipkan tapi -maaf- aku lebih penasaran dengan kejadian tempo lalu. Iya aku sedang bermasalah dengan temanmu sekarang, kalau kamu mau tau, ini pasti sia-sia karena biasanya kamu membela temanmu itu, bukan aku. Padahal aku temanmu juga.

Aku mengingat soal "kotak pandora" yang kamu simpan dan selalu melarangku untuk membukanya, hei..apa kamu tau..aku selalu penasaran dan kamu selalu bilang suatu saat aku akan mengerti dan tahu sendiri. Aku tahu sekarang isi kotak pandora itu. Ini memang tebakanku saja sebenarnya, tapi dari dulu aku selalu mempercayai feeling-ku sendiri.

Ah..iya kini aku menyadari bahwa kamu lebih bijaksana dari temanmu itu. Asal kamu tahu dia yang menyia-nyiakanku bukan aku yang mengkhianatinya. sungguh. kenapa kamu tak memberi tahuku soal ini. Kamu berfikir temanmu itu berbeda nasib denganmu ya?
Hei..pangeran kodok! kemana saja dirimu, lama tak menagih senyum kepadaku, iya sih temanmu itu selalu membuatku tersenyum bahkan tertawa, tapi....ah..lain kali kalau aku bertemu denganmu aku ceritakan semuanya isi dari "kotak pandora" itu.

Ini menyakitkan, pangeran kodok!



#30harimenulissuratcinta

Saturday, January 14, 2012

(01) Menemui Mamah

Dear Malaikat Cantikku,


Aku tau, Mamah disana selalu melihatku, memperhatikanku dan aku kadang bisa merasakan pelukanmu ketika aku ketiduran di sofa tanpa selimut.

Mamah, sini aku bisikan sesuatu! ...aku merindukanmu. Merindukanmu memanggilku dengan panggilan sayangmu, "Khasih".

Mamah, ini aku, anakmu yang dulu masih lugu dan pasti katamu aku anak perempuan paling cantik di dunia ini. Iya bukan? dan aku sekarang sudah Dewasa (setidaknya itu kata Papah).

Percakapan kami tadi malam Mah, kata Papah "Anakku sekarang menangis, menangis karena pria, tapi pria itu bukan aku, itu tandanya anakku sudah Dewasa, tapi itu tidak menutup rasa kekhawatiranku terhadapmu".

Iya, aku menangis untuk yang kusebut sebagai cinta. Tapi apa pantas dia "cinta" ketika membuatku menangis Mah?

Aku merindukanmu Mah, rasanya aku ingin ketempatmu saja, tapi aku ini masih lemah, aku diuji Tuhan untuk seperti inipun sudah sangat rapuh. Ajari aku ketegaran seperti mu ketika 8th yang lalu Mamah begitu tegar menghadapi semua, bahkan menghadapi kehilangan nyawa sendiripun. Ajari aku Mah...

Aku ingin dewasa dan tak membuat Papah khawatir lagi.



#30harimenulissuratcinta

Tuesday, January 03, 2012

Cerita Cinta #Part III

Aku tidak begitu mengingat beberapa kejadian sebelum aku terbaring di ruangan putih-biru ini. Semua serba putih kecuali tirai berwarna biru tua yang mengelilingiku. Bau yang sangat khas dan selang kecil yang tersambung di lengan kiriku, mengumpulkan sedikit demi sedikit memori yang sedari tadi aku cari. Terakhir aku masih berdiri di depan jendela kamar sambil merasakan tiupan angin yang membuat badanku menggigil dan tidak lama aku merasakan sakit hebat didaerah perut. Sudah, segitu yang kuingat.

Sudut mata kananku menangkap sesosok berbaju putih bergaris hitam halus, dia sedang duduk disopa putih dengan kepala disangga kedua tangannya. Aku tahu persis siapa orang itu. Dia kekasihku - Rady. Tidak lama ada tirai terbuka oleh seorang yang aku pikir dia adalah dokter. Tidak tahu persis apa yang terjadi, Rady mengikuti dokter itu keluar dari tirai tempatku terbaring. Mengapa aku bisa di tempat ini dan Rady...Rady kenapa ada disini? bukankah dia lagi menjauhiku? Semakin banyak pertanyaan yang memenuhi kepalaku dan satupun tidak ku temukanjawabannya.

“Istri anda mengalami thypus dan kondisi badannya sangat lemah sepertinya dia belum makan hari ini.” Suara dokter itu sangat jelas terdengar. Istri? Siapa istri yang dimaksud?

“Tapi.....” Suara Rady terdengar terbata-bata. Benar saja dokter itu sedang berbicara dengan Rady, siapa yang sebenarnya mereka bicarakan? Jelas aku bukan istrinya, tapi yang terbaring sakit saat ini adalah aku. Dokter telah salah menduga. Kami belum menikah, mungkin wajahku terlihat menua ketika sakit, atau wajah Rady yang memang terlihat jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya, atau mungkin saja kami memang cocok menjadi pasangan suami istri. Khayalanku memudar ketika mendengar suara tertawa dokter yang sengaja ditahan supaya tidak terlalu keras.

“Anda tidak perlu khawatir berlebihan, sekarang dia hanya tertidur, kondisinya segera membaik jika anda merawatnya dengan baik, perhatikan pola makan dan makanan apa yang dia makan, tadinya saya pikir istri anda hamil, tapi ternyata tidak, sabar...mungkin belum dikasih kepercayaan sama yang diatas” Dokter itu berbicara tanpa henti seolah tidak memberi peluang buat Rady berbicara, mungkin sebenarnya Rady ingin menyangkal penyataan istri yang selalu terlontar dari mulut Dokter sepertinya sudah berumur separuh baya.

Masih banyak yang mereka bicarakan, hanya saja tidak banyak kata yang keluar dari mulut Rady. Sekujur tubuhku rasanya ngilu, aku kembali memejamkan mata. 

Masih dalam keadaan mata yang tertutup, aku merasakan ada tangan yang menyentuh halus keningku, sepertinya sedang merapihkan beberapa helai rambutku yang mungkin berantakan, tentu saja aku tahu itu tangan Rady. “Aku tahu kamu sudah bangun, aku sudah menelpon adikmu buat menjagamu, mungkin sebentar lagi dia sampai...apa yang kamu rasain sekarang?”

“Dingin” kataku pelan.

“Kamu harus makan, dan sekarang coba minum dulu...pelan-pelan saja” katanya sambil menyodorkan air putih dalam gelas. Masih dalam keadaan terbaring lemah, aku memimumnya perlahan memakai sedotan. Gelas itu dia simpan kembali dimeja samping tempat tidurku, aku sengaja menatap matanya. Iya, aku memang sedang mencari sesuatu yang aku rasakan telah hilang. Cinta. Aku mencari cinta lewat matanya untuk yang kedua kalinya. Pertama, dulu sekali saat dia mengajakku ke atas sebuah gedung, dimana Rady memintaku menjadi pacarnya. 

“Kamu kalau lagi sakit, jelek yah?” Pertanyaan itu yang membuatku tidak sempat menyadari jawaban atas sesuatu yang aku cari tadi.

“Tidak sakitpun bukannya kamu sering bilang kalau aku ini jelek”

Sejak sore itu, aku tidak menemukan lagi sosok Rady sampai aku meninggalkan Rumah sakit seminggu kemudian. Tidak ada telepon ataupun sekedar sms dan tidak ada seorangpun yang mempertanyakan keberadaannya  tapi aku merindukannya.

***to be continued***