Thursday, January 26, 2012

(13) Surat cinta buat Kereta

Dear Kereta yang membawa aku dan Mamah ke Yogyakarta


Aku tidak tahu apakah kamu masih bisa berlari dengan cepat seperti dulu (ah..aku lupa mungkin sekitar 11 atau 12 tahun silam) atau tidak, karena itu aku mau menanyakan kabar mu. Apa kabar? apakah masih setia menaungi sambil melaju membawa orang-orang berpindah tempat? semoga kamu tidak hanya akan jadi besi tua yang tidak berguna.

Entah apa yang membuatku berani menyapamu sore ini, padahal aku seorang Phobia terhadapmu atau siderodromophobia, tidak...aku tidak menyalahkanmu, hanya keadaan yang membuatku seperti ini dan aku tentunya.

Seperti yang aku bilang tadi, aku lupa kejadiannya entah sekitar tahun 2001 atau 2002, aku dan Alm. Mamah waktu itu ke Yogyakarta buat mengunjungi sanak saudara, belanja dan mengunjungi teman-teman Mamah (beliau dulunya sekolah disana), yang aku ingat aku sedang liburan sekolah makanya aku diikutsertakan. Saat itu aku dengan antusias menaiki mu, hahaha...wajarlah itu adalah pengalamanku pertama kali naik kereta.

Tapi..liburan kami menjadi tidak seindah yang dibayangkan, mungkin karena kamu kelas ekonomi, penuh berdesakan orang dan dompet Mamah ilang..kecopetan tepatnya, soalnya ada bagian tasnya yang robek, seperti sengaja kena sayatan benda tajam sejenis pisau lipat barangkali. Hidup kami berhari-hari di Yogya jadi sendu yah, walaupun kami tinggal di sodara dan mereka juga malah memberi kami uang untuk liburan. Tapi ini benar-benar membekas di benakku yang saat itu masih berumur awal belasan tahun.

Sejak itu, aku takut melihat -sejenis-mu, aku tidak pernah berfikir untuk menyembuhkan penyakitku ini dulunya...tapi sekarang aku rasa aku harus. Makannya senaja aku tulis surat ini. Kamu setuju? bagaimanapun ini sejenis penyakit yang norak -__-'.

Ada solusi buat aku tidak?


Dear kereta,

Ini adalah surat cinta buatmu  bukan surat benci. Aku tidak membencimu, aku malah merindukanmu.  Kapan kamu membawaku lagi ke kota itu? aku sudah memutuskan tali silaturahmi jadinya. Aku juga tidak cukup banyak uang untuk naik pesawat jika harus berkunjung kesana.

Sekali lagi aku tanya, kapan kamu akan mengajakku ke Kota itu? mungkin aku masih dikasih kesempatan untuk membalas kebaikan mereka saat itu kepadaku dan Alm. Mamah. Ibuku juga pasti diatas sana mengIyakan. 

No comments:

Post a Comment