Friday, December 30, 2011

Cerita Cinta #Part II

Aku duduk terdiam di sudut kamar memandang sore yang kian menua. Menyibak tirai kamar dengan susahnya, mungkin karena kelamaan jarang aku buka. Dulu, tempat ini menjadi tempat favoritku ketika menyendiri, termenung menjalin hubungan baik dengan diam dan jeda. Tapi belakangan ini, aku dengan kesibukan baru tidak bisa lagi sesering mungkin hanya untuk berdiri seperti ini, mengadu lelah pada kasur yang sudah 3 tahun terakhir selalu menjagaku dikala malampun bisa dihitung dengan jari perbulannya

Aku menyukai hampir semua suasana alam yang Tuhan pertontonkan, seperti pemandangan yang sedang kulihat di balik jendela saat ini. Menakjubkan. Bayangkan, Tuhan bisa berpuisi tanpa harus berkata-kata. Tuhan bisa menyentuh semua pemilik hati tanpa harus membelai. Kasih sayangnya sungguh luar biasa. Semuanya menjadi seimbang tanpa harus menelanjangi setiap makna yang kita lihat, tanpa harus bertanya “kenapa” dan “bagaimana”. Karena kita takkan mampu menemukan jawabannya selain kesempurnaanNya lah yang bisa menjadikan semuanya ini terjadi. Nampak dan nyata.

Sesuatu yang aku pikir selama ini sederhana ternyata jauh lebih lebih rumit daripada mengurai jaring laba-laba, selain dia rapuh untuk apapula diurai, bikin repot saja. Tapi ternyata kehidupan tidak demikian, ketika memang semua harus diurai satu per satu, urailah semampu kita. Aku menyadiri bahwa aku ini tidak hidup sendiri, tapi saat ini aku seperti sedang diuji Tuhan untuk berusaha sendiri, mengurai sesuatu yang belum pernah aku liat sebelumnya di kehidupanku.

Kesederhanaan itu adalah ketika aku berkata “aku akan bahagia ketika kekasihku bahagia”, tapi yang kurasakan sekarang justru rasa sakit, sakit yang entah dimana letaknya. Aku tidak menyadari keberadaan lukanya, hanya merasakannya melekat dalam tubuh, jauh..jauh didalam. Sesekali aku basuh semua itu dengan hangatnya air mata. Paling tidak aku belum mati rasa, aku masih hidup, masih bernafas seperti biasa dan masih bisa mensyukuri setiap warna yang aku terima dengan pandanganku. Seperti sore ini. 

Enaknya mengeluh kepada Tuhan adalah tidak harus dengan berkata-kata dan tidak harus mempunyai pikiran buruk bahwa Tuhan tidak akan mengerti.

Aku sudah berusaha, berusaha mencintainya dan mempertahankan hubungan yang selama ini terjalin cukup baik dengan kekasih. Itulah yang menjadi dasar mengapa selama ini, aku bisa merasakan bahagia. Tapi ternyata semua ada kelanjutannya, aku akan bahagia jika dia juga mencintaiku. Berarti selama ini aku berbohong. Aku memberikan sesuatu hanya untuk meminta balasan.  Seharusnya aku bahagia dengan menjadi diri sendiri, bukan "karena" atau "oleh" apa(siapa)pun. Pantas Tuhan marah kepadaku.

“Dulu aku ingin menikahimu, tapi mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan kenapa semuanya bisa seperti ini, aku harap kamu mengerti saja” ucap kekasih seminggu yang lalu melalui henpon.

“Kamu pikir, aku malaikat yang akan mengerti setiap diam yang kamu tunjukan?”

“Kita sama-sama belajar saja, belajar untuk menerima kenyataan” katanya lagi.

“Kenyataan seperti apa?”

“Kenyataan bahwa aku meminta waktu untuk merenungkan kembali hubungan kita”

“Berapa lama?”

“Sampai kita benar-benar menemukan jawabannya.”

“Aku masih kekasihmu?”

“iya”  

Teleponpun terputus, rasanya sejak itu aku tidak mau terlelap. Aku tidak mau memejamkan mata barang sedetikpun, aku takut tidak bisa mencintainya lagi ketika terbangun.


...to be continued...

Thursday, December 29, 2011

Naksir

Seusai magrib, ketika langit berganti jubah menjadi gelap, gue sudah duduk dibangku salah satu Sekolah Tinggi di Ibu kota, sepertinya kali ini gue emang datang terlalu cepat, kursi yang emang disediakan untuk dosen masih kosong, kejadian seperti ini sama sekali tidak gue sukai, suasana kelas yang berisik membuat gue tidak konsentrasi untuk melakukan apapun, gue tidak begitu suka berbaur dalam keadaan hingar bingar. Gue ga habis pikir sama orang yang masih punya suara full sehabis pulang kerja gini

Gue memilih duduk tepat disamping seorang cowok yang sudah gue kenal jauh sebelum kita sama-sama melanjutkan kuliah setelah lulus Diploma 3. Gue merasa dia sebenernya naksir gue sejak awal kali kita bertemu, hanya saja mungkin karena dia sudah punya kekasih, dia memutuskan untuk mengagumi gue  saja. Entah darimana gue yakin dengan yang gue rasain itu, sejauh ini gue tidak pernah cari kebenarannya, karena untuk apa? Lagipula gue hanya menganggap dia teman biasa, tidak lebih. Gue sendiri lebih suka dengan title “single” selama ini gue sandang. Menurut gue ini buktikan kalau cewek itu bisa mandiri tanpa cowok dan satu hal lagi kenapa gue bangga, karena sebenarnya yang nyajak gue jadian itu banyak. Tapi belom ada yang bisa ngambil hati gue.

Masih dengan suara ruangan kelas yang gaduh, gue lebih memilih mendengarkan musik lewat MP3 sambil iseng ngebaca novel yang tebelnya nguras tempat di tas gembok gue. Ternyata teman disamping gue itu dari tadi ngajak ngobrol, gue baru tersadar pas dia melempar buku catatannya ke arah novel yang lagi gue baca. Spontan gue copot headset dari telinga.

“Kenapa?” tanya gue sambil nengok.

“Coba deh liat sekitar, ngga ada apa cowok yang loe taksir apa?” tanya teman gue sambil matanya menuntun pandangan gue juga untuk mengelilingi seisi kelas.

“Ada, tuh dia” jawab gue pasti sambil menggerakkan dagu menunjuk kearah cowok yang lagi sibuk sendiri dengan laptopnya. Gue sendiri heran dengan jawaban gue. Gue rasa barusan setan lewat di depan gue.

“Oh” reaksi si teman dan ga lebih dari itu, gue juga ga begitu perhatiin reaksi mukanya kaya apa, menurut gue itu ga penting, yang sekarang lagi berkeliaran di otak gue lah yang penting. Masa iya gue naksir tuh cowok? Kenal juga kagak.

Sampai seminggu dari kejadian itu, gue masih kepikiran sama ucapan gue sendiri, akhirnya gue nyari tahu itu cowok lewat dunia maya dengan hanya bermodal nama lengkapnya yang gue temuin dari absen kelas dan ternyata namanya tepat dibawah nama gue. Menurut gue setan emang lagi asik-asiknya lewat didepan gue kali yah, entah dengan nyali apa gue tiba-tiba nge-add itu cowok jadi teman di Facebook gue. Dan besoknya ada notification di henpon gue, kalau ternyata dia menerima request pertemanan dari gue dan gilanya lagi dia nulis di wall gue bilang makasih sudah nge-add. Ga nyangka aja, cowok se low profile kaya dia bisa ngenalin gue, padahal gue aja baru tahu namanya semalem, gue pikir dia orangnya suka asik sama dunianya sendiri.

Semuanya mengalir begitu aja, kita jadi sering kontak-kontakan lewat dunia maya. Tapi kalau di kelas kita sama-sama kaya orang yang ga kenal satu sama lain. Gue sendiri ga masalahin sampai akhirnya gue ngerasa kehilangan kalau dia ga ngehubungin gue. Mungkin emang alam bawah sadar gue naksir itu cowok. Satu hal yang gue ga suka, yaitu cara berpakainnya yang menurut gue kaya tetoris, gue ga bisa jabarin dasar penilaian keanehan gue itu. Tapi dia memang cakep sih. Pintar dan ga banyak ngomong. Misterius yang terpenting. Itu yang gue suka.

Hari-hari gue disibukan dengan chating yang penting seperti nanyain tugas kampus, sampai yang ga penting kaya nanyain udah mandi atau belum. Dan itu dilakukan sehabis pulang kuliah sampe tertidur. Kejadian seperti ini berlangsung lama, sampai akhirnya gue ngerasa kalau dia hanya mempermainkan perasaan gue aja, atau gue yang terlalu kegeeran padahal dia cuma nganggap gue temen dunia mayanya ga lebih dari itu. Gue nyerah tanpa syarat dan gue mutusin untuk membuka hati gue untuk teman-temen gue yang lain yang lagi medeketin gue.

Waktu berlalu terlalu cepat menurut gue, sampai akhirnya gue memutuskan mempunyai pacar dan ternyata cowok gue adalah teman kerjanya dia. Kita bertiga dipertemukan disatu acara pernikahan teman kantor cowok gue. Tentu saja dia ada karena temen cowok gue ya pasti temen dia juga.

Yang gue rasain mungkin setan lagi ngegoda gue lagi, gue jadi salah tingkah dengan tatapan dia yang menurut gue ga bisa dijabarin artinya, sampai pada acara poto bersama bareng pengantin, gue berpose disamping cowok gue dan tanpa gue sadar ternyata dia tepat disamping gue juga sambil berkata lirih ketelinga gue “harusnya tanganmu itu yang menggandeng tangganku”.

Dari situ gue baru tahu kalau sebernya dia naksir gue juga dan ternyata dia berniat langsung melamar gue tanpa pacaran karena dia tipe yang tidak setuju dengan sebuah hubungan yang mengatasnamakan pacaran. Tuhan berkata lain, gue hanya diijinkan Tuhan untuk naksir dia tanpa harus memiliki dia, ini mungkin yang dinamakan jodoh. Dia bukan jodoh gue karena beberapa bulan setelah itu dia menikah dengan cewek lain.

“harusnya tanganku ini yang menggandeng tangganmu” bisik gue lirih diacara pernikahan dia.


***

Wednesday, December 28, 2011

Cerita Cinta #Part I

Aku sering duduk bersebelahan dengannya yang sudah hampir setahun ini menjadi kekasihku, tapi hampir tidak pernah merasakan kedekataan yang luar biasa, kami dengan profesi yang hampir sama jarang punya waktu luang bersama, baru kali itulah aku merasakannya, ketika duduk disebuah bis yang menghantarkan kami dari sebuah Bandara Internasional menuju sebuah terminal bis dekat rumah tinggalku di Ibu kota, dia meyempatkan waktu untuk menjemputku, tidak tahu persis kenapa malam itu begitu terasa berbeda, mungkin Tuhan mengirim pendar-pendar cahaya lampu jalanan agar membantu menciptakan sesuatu yang beregup kencang di jantungku kala itu. 

Kemudian aku merasakan sesuatu yang dingin ditangan dan kaki yang membuatku mematung tepat dibawah AC bis yang berhembus kencang. Sambil meraba perut yang kian sakit dan kembung, aku memvonis diri sendiri, masuk angin.

Dan sesuatu yang beregup kencang di jantungku masih terasa.  

Secara fisik kami tidak bersentuhan hanya sekali dia mencolek pipiku pertanda sedang menggoda atau mungkin pertanda dia sedang melepaskan rindunya kepadaku yang baru saja pulang dari Luar kota sekitar hampir tiga minggu dan sekali pula  aku memegang lengannya yang cukup kokoh untuk mengganti posisi dudukku yang kurang nyaman.

Kami sama-sama memandang ke jendela sebelah kanan, beberapa kali kami beradu pandang dan mulut kami masih diam, sesekali aku tersipu entah kenapa dan diapun hanya menaikkan matanya berulang kali, pikirku mungkin dia sedang bingung harus bersikap seperti apa, mungkin dia merasakan getaran yang sama seperti yang aku rasakan. 

Menurutku malam ini memang berbeda, ini tak seperti malam tapi lebih tepatnya seperti pagi buta yang hendak menyapa pagi (Subuh), dan ternyata diapun sepakat dengan yang kurasakan, dari situ dia mulai bercerita tentang masa silamnya ketika masih duduk di bangku kuliah di Sekolah Tinggi milik Negara. Aku hanya sesekali mengangguk kecil hanya untuk menunjukkan bahwa aku pendengar yang baik.

Awalnya aku tidak memahami alur cerita yang sedang bergulir tapi ketika aku melihat binar bahagia dimatanya, sepertinya ragaku mulai tertarik masuk ke cerita sekitar 4tahun silam itu dan aku merasa dia menempatkanku tepat disampingnya juga dalam sebuah ceritanya karena settingan ceritanya pun sama, yaitu didalam sebuah bis.

Ini mungkin sebuah kekaguman yang berlebihan, hingga aku bisa melupakan perut yang sedang tidak bersahabat. Aku juga percaya dari tatapannya, dia menyimpan kekaguman serupa kepadaku. Aku menyadarinya sekarang bahwa aku akan merasakan bahagia ketika dia bahagia, sesederhana itu. Aku merasa dekat dengan jiwanya. Iya, aku mencintainya dan ada janji yang terucap dalam hati tiba-tiba, bahwa aku akan terus berusaha membuat dia bahagia supaya akupun merasakan bahagia itu.

Dia memang sosok yang tak pandai bercerita tentang kehidupannya, berbeda denganku yang selalu terbuka dengan tentang kehidupan pribadi, mungkin inilah yang membuatku merasa selalu jauh dengannya tapi malam itu dia seolah menjelma menjadi pendongeng hebat yang sedang bercerita kepada anak kecil yang hendak terlelap setelah seharian lelah bermain.

Hanya saja dia cukup humoris untuk selalu membuatku tersenyum bahkan tertawa, ini jarang bisa dilakukan siapapun karena aku sendiri sosok yang lumayan kaku dengan sekitar apalagi dengan orang yang tidak ku kenal, aku jarang menyukai lingkungan dan orang baru. Dialah yang membuat duniaku lebih berwarna. Katanya, kejutekan mukaku lah yang  justru membuat dia bisa jatuh cinta kepadaku. Ini aneh pikirku tapi sekarang aku mensyukurinya saja. Tuhan mengirimkan dia yang luar biasa di kehidupanku yang hampir seperempat abad ini.

Laju bis yang sedang kami tumpangi tidak begitu lancar, ibu kota memang sudah terbiasa macet seperti ini dan akupun tanpa sadar merindukan kemacepatan setelah tiga minggu tinggal di suatu daerah yang tidak begitu ramai dengan kendaraan. Lagi-lagi aku bersyukur kepada Tuhan, mungkin ini salah satu cara Tuhan supaya aku merasakan kebersamaan dengan dia lebih lama. Saat berpikir seperti itu, aku menyunggingkan senyum kecil.

Waktu memang tak bisa dihentikan dan akupun tak berniat menghentikannya kalaupun dikasih kekuatan untuk itu sama Tuhan, secara fisik kami harus berpisah lagi tapi aku masih merasakan dia ada tepat duduk disampingku dengan aroma tubuhnya yang semakin aku hafal, dengan tubuh yang lelah setelah perjalanan berjam-jam, aku terlelap dalam damai mungkin aku tidur sambil tersenyum.

Tidak lupa aku berdo’a : “besok-besok aku ingin merajut bahagia lagi bersamanya”. Tersungging senyum malu dari bibirku kala itu, aku membayangkan Tuhan akan segera menggabulkan do’aku.

Aku ingin dia bahagia, supaya akupun bahagia.


...to be continued...

Wednesday, December 21, 2011

"Apa bedanya bicara sekarang atau nanti?"

Kadang untuk berfikir seperti itupun otakku terbatas

...

Tuesday, December 20, 2011

Tiga hari yang lalu, aku merengek kepada Tuhan saat senja menyapa malam,

"Tuhan, aku ingin dibawa terbang burung itu"

Baru saja,aku mengetok meja kayu 3kali [tok..tok..tok]
Aku membatalkan pintaku kepada Tuhan

"Tuhan aku bangga dengan kakiku yang selama ini menopangku"

...

Wednesday, December 14, 2011

Kamu candu
Kamu obat penahan kantuk
Kamu sebuah kebingungan
Kamu adalah cinta

Kamu pemicu mual
Kamu oleng
Kamu lambang kebisuan
Kamu sosok ketegaran

aku bayangan
Pudar
Mati

Kamu canda dan tawa
aku diam


Waktu hilang
Kita tiada
...

Friday, December 09, 2011

Bendera putih yang kemarin aku kibarkan sebagai bentuk perdamaian kepada keadaan, masih aku pertahankan. Semata hanya demi menjaga nafasmu yang mulai berhembus normal, walaupun disini (ku tunjuk hatiku) ada perang yang tak henti, bernegosiasi dengan diri sendiri itu jauh lebih merepotkan.

Aku tidak akan menghentikan perjalanan yang sudah sangat jauh ini, yah..walaupn tujuan itu belum terlihat, aku pikir jika berhentipun akan menunjukkan sebuah kesalahan baru yang semakin jelas memperlihatkan kebodohan diri. Berhenti saja salah apalagi mundur bukan? Manusia macam apa aku ini yang slalu mengeluh dan menyerah? Mungkin begitu kata Tuhan.

Ini mungkin terdengar munafik, tidak aku tidak bermaksud seperti itu, akupun tidak memaksa hatiku yang mudah pecah untuk selalu tegar, aku akan biarkan air mata mengalir terus menerus jika itu dianggap perlu. Seperti sore ini.

hei, kamu pemilik sebuah hati yang berhasil aku curi, aku masih disini memegang keyakinanmu dan keyakinan yang aku titipkan kepada Tuhan. Semoga tidak mengecewakan.

Thursday, December 08, 2011

Aku rasa, aku mulai bisa berdamai dengan keadaan, setidaknya aku tidak terlalu punya keinginan untuk memikirkan situasi buruk yang tercipta kemarin. Aku tidak menjaminkan apapun untuk mampu bertahan terus dalam keadaan seperi ini, barangkali bisa kamu manfaatkan untuk sekedar bernafas teratur sejenak, melihatmu terengah-engah akupun tak tega.

Katamu, waktu itu tidak akan pernah habis. Yah..waktu memang diciptakan Tuhan untuk umatNya dan didalamnya Tuhan menyediakan waktu untuk kita. Untuk kita saling mencintai. Sudah. Segitu saja cukup alasannya. Jikapun aku membencimu bersama keadaan buruk yang kamu bawa, pastilah itu bukan waktu yang Tuhan sediakan untuk kita.

Aku tidak pernah membencimu.

Menurutku memahamimu adalah sebuah kebutuhan, entah untuk apa. Mungkin aku haus akan cinta. Dan aku percaya kamu adalah cinta yang kumaksud. Satu kesimpulan kecil, bahwa semua keinginan yang tertanam dihatiku adalah seperti sikap yang selalu kamu tunjukkan. Tidak tergesa-gesa.

Kenyataannya aku merindukanmu saat sikapmu paling menjengkelkan sekalipun.

Aku tidak pernah membencimu.

Katamu, apapun bisa berubah. Sekeras batu besarpun dengan percikan air yang terus menerus akan berlubang. Aku simpan semua perkataanmu dalam hati bersama keyakinan yang aku titipkan kepada Tuhan. Dan yang berubah bukan cinta kita. Sudah segitu saja. Jikapun cinta kita yang berubah, pastilah masih ada tangan Tuhan yang memeluk mempersatukan kita di dalam waktu yang tak pernah kita tahu.

Wednesday, December 07, 2011


Tumpahkan saja terus kebingunganmu dalam diam, terus saja berharap aku akan mengerti tanpa kamu berkata. Dan kamu sadari betapa susahnya aku meraba sesuatu yang tak nampak. Bukannya begitu caramu mencintaiku?

Yaa..sejauh ini aku nikmati saja, terdengar bijak bukan?

Tidak, aku tidak sebijak itu, aku hanya merasa tidak punya pilihan. Tapi ternyata hatiku pun berkata lain, "Jangan pernah merasa tidak punya pilihan, bahkan pilihan yang terbaik itu, telah disiapkan Tuhan". Segitu keyakinanku. Aku lebih memilih keyakinan itu dititipkan kepada Tuhan daripada kepadamu.

Beginilah caraku mencintaimu.

Awalnya aku merasa semua harus kita tatap bersama, tapi fisikku pun kadang melemah dengan rutinitas lain, yah...aku memilih untuk terlelap saja dalam lelah. Dan sudut mataku masih menangkap kebingungan itu dimatamu. Terus saja..lanjutkan tatapan bingung itu.

Bukannya begitu caramu mencintaiku?

...

Monday, December 05, 2011

Terkadang jarak itu tidak hanya diukur dari kata 'dekat' atau 'jauh' sebuah pola pikir bisa membentuk jarak yang bisa mengalahkan perasaan bukan?

...