Dear no name,
Aku tidak pernah berkenalan denganmu, makannya aku tidak tahu siapa namamu, aku hanya pernah dibawa seseorang berulang kali ke tempatmu, maka aku tidak akan menanyakan kabar atau tidak bermaksud pula berkenalan denganmu melalui surat ini.
Maafkan aku tidak pernah berterima kasih kepadamu, tempatmu yang sunyi itu selalu mengajarkanku tentang getaran yang lebih hebat, tentang degup yang lebih kencang, tentang sesak yang membahagiakan, tentang cinta. Stttt...jangan kamu tanyakan soal detak jantung seseorang selain aku, dia telah memutuskan untuk pergi. Percuma saja jika kamu merindukannya, dia mungkin tidak akan kembali, tapi aku tidak sampai hati menyebut dia pengecut, Tuhan tidak mengijinkan aku seperti itu.
Tapi, kalau kamu tetap memaksa merindukannya, baiklah...aku akan akui sesuatu juga, aku bahkan lebih merindukannya. Ingin sekali aku mengunjungimu bersamanya.
Tapi, kalau kamu tetap memaksa merindukannya, baiklah...aku akan akui sesuatu juga, aku bahkan lebih merindukannya. Ingin sekali aku mengunjungimu bersamanya.
Jadi bagaimana ?
ehm..sebenarnya aku malu kepadamu...inilah inti suratku sebenarnya,
Aku sudah tidak bisa lagi berdiam diri, aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu...bagaimana jika kamu membantuku saja. Bantu aku untuk membujuknya supaya dia mengajakku kembali kepadamu seperti dulu.
Atau bilang kepadanya, tak usah menjemputku juga tak apa, kita langsung bertemu di tempatmu nanti. NANTI!
Iya aku akan menunggunya di tempatmu.
P.S : dia yang ngasih tahu aku, bahwa namamu itu pagi buta.
#30harimenulissuratcinta

No comments:
Post a Comment