Aku rasa, aku mulai bisa berdamai dengan keadaan, setidaknya aku tidak terlalu punya keinginan untuk memikirkan situasi buruk yang tercipta kemarin. Aku tidak menjaminkan apapun untuk mampu bertahan terus dalam keadaan seperi ini, barangkali bisa kamu manfaatkan untuk sekedar bernafas teratur sejenak, melihatmu terengah-engah akupun tak tega.
Katamu, waktu itu tidak akan pernah habis. Yah..waktu memang diciptakan Tuhan untuk umatNya dan didalamnya Tuhan menyediakan waktu untuk kita. Untuk kita saling mencintai. Sudah. Segitu saja cukup alasannya. Jikapun aku membencimu bersama keadaan buruk yang kamu bawa, pastilah itu bukan waktu yang Tuhan sediakan untuk kita.
Aku tidak pernah membencimu.
Menurutku memahamimu adalah sebuah kebutuhan, entah untuk apa. Mungkin aku haus akan cinta. Dan aku percaya kamu adalah cinta yang kumaksud. Satu kesimpulan kecil, bahwa semua keinginan yang tertanam dihatiku adalah seperti sikap yang selalu kamu tunjukkan. Tidak tergesa-gesa.
Kenyataannya aku merindukanmu saat sikapmu paling menjengkelkan sekalipun.
Aku tidak pernah membencimu.
Katamu, apapun bisa berubah. Sekeras batu besarpun dengan percikan air yang terus menerus akan berlubang. Aku simpan semua perkataanmu dalam hati bersama keyakinan yang aku titipkan kepada Tuhan. Dan yang berubah bukan cinta kita. Sudah segitu saja. Jikapun cinta kita yang berubah, pastilah masih ada tangan Tuhan yang memeluk mempersatukan kita di dalam waktu yang tak pernah kita tahu.
so sweeet :)
ReplyDelete