Wednesday, December 28, 2011

Cerita Cinta #Part I

Aku sering duduk bersebelahan dengannya yang sudah hampir setahun ini menjadi kekasihku, tapi hampir tidak pernah merasakan kedekataan yang luar biasa, kami dengan profesi yang hampir sama jarang punya waktu luang bersama, baru kali itulah aku merasakannya, ketika duduk disebuah bis yang menghantarkan kami dari sebuah Bandara Internasional menuju sebuah terminal bis dekat rumah tinggalku di Ibu kota, dia meyempatkan waktu untuk menjemputku, tidak tahu persis kenapa malam itu begitu terasa berbeda, mungkin Tuhan mengirim pendar-pendar cahaya lampu jalanan agar membantu menciptakan sesuatu yang beregup kencang di jantungku kala itu. 

Kemudian aku merasakan sesuatu yang dingin ditangan dan kaki yang membuatku mematung tepat dibawah AC bis yang berhembus kencang. Sambil meraba perut yang kian sakit dan kembung, aku memvonis diri sendiri, masuk angin.

Dan sesuatu yang beregup kencang di jantungku masih terasa.  

Secara fisik kami tidak bersentuhan hanya sekali dia mencolek pipiku pertanda sedang menggoda atau mungkin pertanda dia sedang melepaskan rindunya kepadaku yang baru saja pulang dari Luar kota sekitar hampir tiga minggu dan sekali pula  aku memegang lengannya yang cukup kokoh untuk mengganti posisi dudukku yang kurang nyaman.

Kami sama-sama memandang ke jendela sebelah kanan, beberapa kali kami beradu pandang dan mulut kami masih diam, sesekali aku tersipu entah kenapa dan diapun hanya menaikkan matanya berulang kali, pikirku mungkin dia sedang bingung harus bersikap seperti apa, mungkin dia merasakan getaran yang sama seperti yang aku rasakan. 

Menurutku malam ini memang berbeda, ini tak seperti malam tapi lebih tepatnya seperti pagi buta yang hendak menyapa pagi (Subuh), dan ternyata diapun sepakat dengan yang kurasakan, dari situ dia mulai bercerita tentang masa silamnya ketika masih duduk di bangku kuliah di Sekolah Tinggi milik Negara. Aku hanya sesekali mengangguk kecil hanya untuk menunjukkan bahwa aku pendengar yang baik.

Awalnya aku tidak memahami alur cerita yang sedang bergulir tapi ketika aku melihat binar bahagia dimatanya, sepertinya ragaku mulai tertarik masuk ke cerita sekitar 4tahun silam itu dan aku merasa dia menempatkanku tepat disampingnya juga dalam sebuah ceritanya karena settingan ceritanya pun sama, yaitu didalam sebuah bis.

Ini mungkin sebuah kekaguman yang berlebihan, hingga aku bisa melupakan perut yang sedang tidak bersahabat. Aku juga percaya dari tatapannya, dia menyimpan kekaguman serupa kepadaku. Aku menyadarinya sekarang bahwa aku akan merasakan bahagia ketika dia bahagia, sesederhana itu. Aku merasa dekat dengan jiwanya. Iya, aku mencintainya dan ada janji yang terucap dalam hati tiba-tiba, bahwa aku akan terus berusaha membuat dia bahagia supaya akupun merasakan bahagia itu.

Dia memang sosok yang tak pandai bercerita tentang kehidupannya, berbeda denganku yang selalu terbuka dengan tentang kehidupan pribadi, mungkin inilah yang membuatku merasa selalu jauh dengannya tapi malam itu dia seolah menjelma menjadi pendongeng hebat yang sedang bercerita kepada anak kecil yang hendak terlelap setelah seharian lelah bermain.

Hanya saja dia cukup humoris untuk selalu membuatku tersenyum bahkan tertawa, ini jarang bisa dilakukan siapapun karena aku sendiri sosok yang lumayan kaku dengan sekitar apalagi dengan orang yang tidak ku kenal, aku jarang menyukai lingkungan dan orang baru. Dialah yang membuat duniaku lebih berwarna. Katanya, kejutekan mukaku lah yang  justru membuat dia bisa jatuh cinta kepadaku. Ini aneh pikirku tapi sekarang aku mensyukurinya saja. Tuhan mengirimkan dia yang luar biasa di kehidupanku yang hampir seperempat abad ini.

Laju bis yang sedang kami tumpangi tidak begitu lancar, ibu kota memang sudah terbiasa macet seperti ini dan akupun tanpa sadar merindukan kemacepatan setelah tiga minggu tinggal di suatu daerah yang tidak begitu ramai dengan kendaraan. Lagi-lagi aku bersyukur kepada Tuhan, mungkin ini salah satu cara Tuhan supaya aku merasakan kebersamaan dengan dia lebih lama. Saat berpikir seperti itu, aku menyunggingkan senyum kecil.

Waktu memang tak bisa dihentikan dan akupun tak berniat menghentikannya kalaupun dikasih kekuatan untuk itu sama Tuhan, secara fisik kami harus berpisah lagi tapi aku masih merasakan dia ada tepat duduk disampingku dengan aroma tubuhnya yang semakin aku hafal, dengan tubuh yang lelah setelah perjalanan berjam-jam, aku terlelap dalam damai mungkin aku tidur sambil tersenyum.

Tidak lupa aku berdo’a : “besok-besok aku ingin merajut bahagia lagi bersamanya”. Tersungging senyum malu dari bibirku kala itu, aku membayangkan Tuhan akan segera menggabulkan do’aku.

Aku ingin dia bahagia, supaya akupun bahagia.


...to be continued...

No comments:

Post a Comment